Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam pada penutupan perdagangan. Seperti diberitakan oleh Investor Daily, indeks jatuh hingga 223,5 poin atau setara 3,54% ke posisi 6.094,9 pada Kamis (21/5/2026).
Aktivitas perdagangan di bursa mencatatkan total nilai transaksi mencapai Rp 18,28 triliun. Dalam pergerakan pasar tersebut, tercatat 91 saham mengalami penguatan, 700 saham melemah, dan 168 saham lainnya bergerak stagnan.
Volume perdagangan menyentuh angka 33,5 miliar lembar saham yang berpindah tangan melalui frekuensi transaksi sebanyak 2,12 juta kali. Seluruh sektor saham mencatatkan pelemahan dengan penurunan terdalam dialami oleh sektor energi yang merosot sebesar 6,91%.
Koreksi juga melanda sektor barang baku sebesar 6,53%, sektor barang konsumen primer 6,05%, serta sektor infrastruktur yang melemah 5,58%. Sektor perindustrian turun 5,37%, sektor transportasi susut 4,92%, dan sektor properti terkoreksi 3,89%.
Selanjutnya, sektor kesehatan melemah 1,65%, sektor barang konsumen non-primer terpangkas 1,44%, sektor teknologi turun 1,38%, dan sektor keuangan tergerus 1,22%. Kejatuhan ini terjadi saat bursa di kawasan Asia justru bergerak menguat.
Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa pasar saham Asia relatif menguat karena optimisme meredanya ketegangan geopolitik. Namun, pergerakan IHSG justru berbalik arah dari tren regional tersebut akibat tekanan tiga sentimen domestik.
Faktor pertama dipicu oleh respons pelaku pasar terhadap kebijakan Presiden Prabowo terkait pengetatan tata kelola ekspor komoditas strategis. Skema eksportir tunggal berbasis BUMN untuk sawit, batu bara, dan ferroalloy dinilai memicu ketidakpastian usaha.
Sentimen kedua bersumber dari dinamika makroekonomi terkait fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Mata uang Garuda terpantau melanjutkan pelemahan meskipun Bank Indonesia sudah menerapkan kebijakan kenaikan suku bunga acuan secara agresif.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat melemah sebesar 20 poin atau 0,11% ke posisi Rp 17.673,5. Faktor ketiga yang membuat pelaku pasar bersikap waspada adalah pengumuman hasil Quarterly Review FTSE Global Equity Index Series pada 22 Mei 2026.
Proses rebalancing indeks global tersebut diperkirakan menjadi katalis penting yang memicu volatilitas pasar domestik. Di tengah kejatuhan indeks, sejumlah saham masih berhasil mencatatkan lonjakan harga yang signifikan antara 12% hingga 25%.
Saham PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) melesat 25% menjadi Rp 875, diikuti PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA) yang naik 24,41% ke Rp 316. PT Champ Resto Indonesia Tbk (ENAK) juga melonjak 23,85% menjadi Rp 322.
Selain itu, saham PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) meningkat 15,25% ke posisi Rp 272. Saham PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) juga ikut terangkat sebesar 12,82% menuju level Rp 176 pada penutupan perdagangan.
Sebaliknya, beberapa emiten mencatatkan penurunan tajam. Saham PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) longsor 15% ke Rp 850, dan PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) ambles 15% menjadi Rp 374.
Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga merosot 14,98% ke level Rp 1.220. Kondisi serupa dialami PT Golden Flower Tbk (POLU) yang jatuh 14,98% ke Rp 11.350, serta PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang terkikis 14,97% menjadi Rp 3.010.