Aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing melanda Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (18/5/2026). Berdasarkan data BEI yang dilansir dari Investor Daily, total pelepasan saham oleh investor asing di seluruh pasar mencapai Rp 463,7 miliar.
Akumulasi aksi jual tersebut membuat total net sell asing sepanjang tahun berjalan melonjak menjadi Rp 41,2 triliun. Tekanan jual yang tinggi ini turut memicu kemerosotan indeks saham domestik pada awal pekan.
Di pasar reguler, saham PT Antam Tbk (ANTM) menjadi target pelepasan terbesar oleh investor asing dengan nilai net sell mencapai Rp 315 miliar. Tekanan jual juga membayangi saham-saham berkapitalisasi besar lainnya.
Investor asing terpantau melego saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan catatan jual bersih sebesar Rp 152,5 miliar. Selanjutnya, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga dilepas asing senilai Rp 149 miliar.
Meskipun demikian, beberapa saham perbankan tetap membukukan transaksi beli bersih atau net buy oleh asing. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin akumulasi beli bersih dengan nilai mencapai Rp 107,1 miliar.
Langkah pengosongan portofolio oleh asing ini diikuti pula oleh saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mencatatkan net buy asing senilai Rp 84,8 miliar. Namun, akumulasi beli ini belum mampu menahan kejatuhan indeks secara keseluruhan.
Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG) ditutup ambles 124,08 poin atau merosot 1,85 persen ke level 6.599,2 pada akhir perdagangan. Aktivitas pasar modal hari ini membukukan total nilai transaksi sebesar Rp 20,59 triliun.
Kondisi pasar didominasi oleh koreksi massal dengan 647 saham bergerak turun, sementara hanya 129 saham yang menguat dan 183 saham lainnya stagnan. Seluruh sektor saham terpantau finis di zona merah.
Sektor transportasi mengalami kejatuhan paling dalam dengan penurunan mencapai 6,2 persen, disusul oleh sektor barang baku yang merosot 5,1 persen. Penurunan ini mencerminkan besarnya tekanan jual di lantai bursa.
Sektor perindustrian juga melemah 3,2 persen, diikuti sektor infrastruktur 2,98 persen, dan sektor energi 2,3 persen. Sektor properti serta teknologi sama-sama mengalami penurunan sebesar 2,2 persen.
Pelemahan berlanjut pada sektor barang konsumen non-primer sebesar 1,8 persen, sektor keuangan 1,79 persen, sektor barang konsumen primer 1,5 persen, serta sektor kesehatan yang terkoreksi 1,2 persen.
Pilarmas Investindo Sekuritas memaparkan bahwa pasar global saat ini tengah dibayangi oleh peningkatan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini memicu kekhawatiran meluas terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.
Kombinasi antara perang tarif global dan konflik di Timur Tengah dinilai berpotensi kuat menekan momentum pertumbuhan ekonomi China. Padahal, China merupakan salah satu motor penggerak utama perekonomian dunia.
Dari dalam negeri, fluktuasi pasar keuangan semakin tajam seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus angka Rp 17.600. Sentimen domestik ini menambah tekanan bagi pergerakan indeks.
Menurut analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, pelaku pasar merespons negatif beberapa pernyataan pemerintah mengenai depresiasi rupiah. Pernyataan tersebut dinilai belum memadai untuk memberikan kepastian atas stabilitas ekonomi nasional.