Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kemerosotan tajam pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (8/5/2026).
Dilansir dari Investortrust, indeks terpangkas hingga 204,92 poin atau melemah 2,86 persen ke level 6.969. Pergerakan negatif ini dipicu oleh rontoknya seluruh saham di sektor pertambangan.
Sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar mendominasi jajaran pelemahan. Saham AMMN merosot 9,27 persen, TINS melemah 14,88 persen, INDY turun 14,82 persen, dan INCO terpangkas 13,89 persen. Selain itu, saham BREN juga melemah 11,83 persen serta EMAS jatuh 12,22 persen.
Koreksi dalam ini turut dipengaruhi oleh penurunan performa hampir seluruh sektor saham. Sektor material dasar memimpin pelemahan dengan turun 7,80 persen, diikuti sektor energi sebesar 4,59 persen, dan sektor industri sebesar 4,55 persen.
Sektor transportasi juga melemah 5,72 persen, sektor consumer primer turun 3,39 persen, serta sektor keuangan terkoreksi 1,48 persen. Sebaliknya, sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang menguat sebesar 0,70 persen.
Di tengah pelemahan indeks, mayoritas saham dari sektor kesehatan justru membukukan kenaikan tertinggi. Beberapa saham bahkan berhasil menyentuh batas auto reject atas (ARA).
Saham MPOW melonjak 34,55 persen, disusul MEDS yang naik 34,48 persen menjadi Rp 117. Saham IRRA juga menguat 25 persen ke posisi Rp 510, sementara PEHA meningkat 24,83 persen menjadi Rp 372. Kenaikan lain dicatatkan oleh KAEF yang menguat 24,51 persen dan MORA yang naik 20 persen menjadi Rp 7.500.
Kilas Balik Pergerakan Hari Sebelumnya
Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi perdagangan sehari sebelumnya. Pada hari Kamis, IHSG sempat ditutup melesat 81,85 poin atau menguat 1,15 persen menuju level 7.174.
Aksi ambil untung oleh investor asing masih berlanjut dengan catatan penjualan bersih (net sell) mencapai Rp 76,40 miar. Saham BMRI menjadi sasaran net sell terbesar senilai Rp 315,69 miliar, diikuti BRPT sebesar Rp 128,26 miliar, dan PTRO senilai Rp 97,70 miliar.
Penguatan pada hari sebelumnya disokong oleh lonjakan harga saham perbankan besar. Saham BBCA tercatat naik 4,62 persen menjadi Rp 6.225, BBRI naik 4,75 persen ke level Rp 3.310, BMRI menguat 2,88 persen menjadi Rp 4.640, dan BBNI terangkat 3,92 persen ke posisi Rp 3.980.
Pertumbuhan tersebut juga didorong oleh performa emiten grup Sinarmas, yakni MORA dan DSSA. Beberapa sektor seperti keuangan, infrastruktur, industri, consumer non primer, consumer primer, serta kesehatan turut memberikan sokongan.
Pada perdagangan hari Kamis tersebut, saham yang mengalami kenaikan hingga batas ARA meliputi DPUM naik 35 persen menjadi Rp 162 dan ESIP naik 34,15 persen menjadi Rp 220. Selanjutnya, NATO melonjak 25 persen menjadi Rp 775, DEPO naik 25 persen menjadi Rp 320, ALKA meningkat 24,79 persen menjadi Rp 730, serta MORA menguat 19,62 persen ke level Rp 6.250.