IHSG Dibuka Menguat ke Level 7.096 pada Rabu 29 April 2026

IHSG Dibuka Menguat ke Level 7.096 pada Rabu 29 April 2026
Foto: Ilustrasi IHSG Dibuka Menguat ke Level 7.096 pada Rabu 29 April 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mengawali perdagangan dengan tren positif pada Rabu, 29 April 2026. Berdasarkan data bursa, indeks langsung melesat ke posisi 7.096 saat pasar dibuka.

Hingga pukul 09.05 WIB, dilansir dari Suara, pergerakan IHSG terpantau masih terapresiasi sebesar 0,38 persen. Kenaikan tersebut membawa indeks menyentuh level 7.099 dalam waktu singkat setelah pembukaan.

Aktivitas perdagangan pada pagi hari itu melibatkan volume sebanyak 4,73 miliar saham. Nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp 1,36 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 168.100 kali.

Sebanyak 307 saham mencatatkan kenaikan nilai dalam sesi perdagangan tersebut. Sementara itu, terdapat 231 saham yang terkoreksi dan 421 saham lainnya tidak menunjukkan perubahan posisi atau stagnan.

Beberapa emiten yang berhasil menduduki jajaran Top Gainers antara lain KONI, GDST, BAPA, LAPD, ESIP, TOOL, dan EPIC. Sebaliknya, saham-saham seperti LMPI, KJEN, LCKM, LUCK, DEFI, NAYZ, BABY, dan SRAJ masuk dalam kategori Top Losers.

Analisis dan Proyeksi Pasar

Meskipun dibuka di zona hijau, IHSG diproyeksikan masih menghadapi risiko pelemahan sepanjang hari. Tekanan jual dari investor asing serta sentimen negatif dari pasar global menjadi faktor pemicu utama.

Melalui laporan Morning Market Update edisi 29 April 2026, riset Samuel Sekuritas memaparkan pengaruh foreign outflow. Aksi jual bersih oleh investor asing diperkirakan masih akan membayangi pergerakan indeks domestik.

"Hari ini, kami memperkirakan JCI akan turun akibat tekanan penjualan asing yang terus berlanjut," tulis riset tersebut.

Dampak Sentimen Global

Kondisi pasar modal Amerika Serikat turut memberikan tekanan setelah ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 28 April 2026. Indeks Dow Jones tercatat turun 0,05 persen, disusul S&P 500 yang terkoreksi 0,49 persen, dan Nasdaq anjlok 0,90 persen.

Pelemahan di Wall Street dipicu oleh aksi jual pada sektor teknologi akibat kekhawatiran terhadap pertumbuhan OpenAI. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 0,60 basis poin ke level 4,346 persen juga menekan pasar.

Penguatan Indeks Dolar AS sebesar 0,15 persen ke posisi 98,64 menambah beban bagi pasar negara berkembang. Di pasar luar negeri, ETF Indonesia (EIDO) terkoreksi 0,9 persen, mencerminkan keraguan investor global terhadap aset domestik.

Kondisi Komoditas dan Sentimen Domestik

Dari pasar komoditas, harga minyak Brent melonjak 2,8 persen ke level 111 dolar AS per barel, sementara nikel naik 1,8 persen. Namun, harga emas mengalami koreksi sebesar 1,8 persen pada periode yang sama.

Investor asing terpantau melakukan aksi beli bersih pada saham INCO, BBNI, dan ELSA. Di sisi lain, aksi jual bersih justru menyasar saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BMRI, BBCA, dan BBRI.

Isu domestik lainnya yang dicermati pasar meliputi rencana rights issue ENRG serta dinamika sektor migas global pasca keluarnya Uni Emirat Arab dari OPEC. Kerja sama infrastruktur bioetanol oleh Pertamina juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Artikel terkait

Rekomendasi