Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (20/5/2026) diperkirakan melanjutkan tren penurunan. Dilansir dari Investortrust, laju indeks diproyeksikan bergerak pada kisaran area support 6.322 hingga resistance 6.635.
BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan riset pagi menyebutkan bahwa pergerakan IHSG secara teknikal masih berada dalam tekanan pasar. Tiga saham yakni TLKM, MYOR, dan SUPA menjadi instrumen yang direkomendasikan untuk beli.
Perhatian para pelaku pasar kini tersorot pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Kebijakan moneter tersebut memproyeksikan adanya kenaikan BI Rate sebesar 25 bps menuju level 5,00%.
Faktor lain yang memengaruhi sentimen jangka pendek adalah pidato Presiden Prabowo mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Agenda ini turut mencakup potensi pengumuman pendirian badan eksportir komoditas strategis nasional.
Kondisi pasar modal global juga memberikan dampak negatif setelah Wall Street mengalami pelemahan. Indeks Dow Jones tercatat merosot 0,65%, sementara S&P500 dan Nasdaq masing-masing terkoreksi sebesar 0,67% dan 0,84%.
Pada perdagangan sebelumnya, BEI mengalami kejatuhan tajam sebesar 228,56 poin atau 3,46% ke posisi terendah 6.370. Di sisi lain, investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) dengan nilai total mencapai Rp 260,12 miliar.
Aksi beli bersih oleh pemodal asing paling banyak menyasar saham MDKA dengan nilai sebesar Rp 343,41 miliar. Selanjutnya, saham ADRO mencatatkan net buy senilai Rp 209,08 miliar dan saham MBMA mencapai Rp 99,94 miliar.
Kemerosotan indeks utamanya dipicu oleh respons negatif pasar terhadap rencana pemerintah yang ingin membentuk Badan Ekspor untuk korporasi komoditas sumber daya alam (SDA). Tekanan diperparah oleh depresiasi nilai tukar rupiah yang menembus level terendah baru di angka Rp 17.706 per dolar AS.
Hampir seluruh sektor saham mengalami kejatuhan massal yang menekan indeks secara signifikan. Sektor material dasar merosot 7,30%, sektor energi melemah 6,94%, transportasi turun 6,58%, industri terkoreksi 4,54%, infrastruktur menyusut 4,13%, dan consumer primer terpangkas 3,36%. Namun, sektor kesehatan berhasil tumbuh melawan arus sebesar 0,55%.
Di tengah pelemahan IHSG yang signifikan, beberapa emiten tetap berhasil mencatatkan lonjakan harga yang tinggi. Saham LCKM memimpin penguatan sebesar 33,93% ke level Rp 150, disusul RELI yang melesat 24,48% menjadi Rp 600, dan ASPR naik 15,42% ke posisi Rp 464. Sementara itu, saham FOOD menguat 10% ke angka Rp 187 dan SRAJ meningkat 9,06% menuju Rp 13.850.