IHSG 19 Mei 2026 Dibuka Melemah 33 Poin di Tengah Rebound Pasar Asia

IHSG 19 Mei 2026 Dibuka Melemah 33 Poin di Tengah Rebound Pasar Asia
Foto: Ilustrasi IHSG 19 Mei 2026 Dibuka Melemah 33 Poin di Tengah Rebound Pasar Asia.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (19/5/2026) dibuka melemah sebesar 33 poin atau turun 0,48% menuju level 6.563.

Koreksi pada pembukaan pagi ini berbanding terbalik dengan kondisi pasar saham Asia yang cenderung menunjukkan pergerakan menguat kembali (rebound).

Dikutip dari Investortrust, penurunan indeks dipicu oleh melemahnya sejumlah sektor saham seperti material dasar, industri, energi, consumer non-primer, infrastruktur, serta transportasi.

Kendati demikian, penguatan justru melanda beberapa sektor lainnya, meliputi sektor kesehatan, keuangan, dan teknologi.

Di tengah pelemahan indeks acuan, beberapa saham terpantau mencatatkan kenaikan harga yang pesat pada awal perdagangan.

Saham PURI melonjak 18% menjadi Rp 177, CCSI menguat 16% menjadi Rp 302, SRAJ naik 13,58% menjadi Rp 14.425, LCKM meningkat 14,29% menjadi Rp 127, dan ZATA melesat 14,67% menjadi Rp 87.

Pada hari sebelumnya, IHSG sempat mengalami depresiasi tajam hingga 325 poin atau lebih dari 4,3%, sebelum akhirnya ditutup pada level 6.599.

Investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai total mencapai Rp 463,99 miliar.

Aktivitas pelepasan saham oleh pemodal asing paling banyak melanda saham ANTM senilai Rp 315,03 billion, diikuti BREN sebesar Rp 152,53 miliar, dan AMMN yang mencapai Rp 149,08 miliar.

Tekanan berat terhadap pergerakan indeks disebabkan oleh kejatuhan harga saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (big cap), seperti TPIA, DSSA, AMMN, dan BREN.

Kondisi tersebut diperparah oleh penurunan harga saham-saham perbankan raksasa (big bank), yaitu BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.

Secara sektoral, seluruh sektor saham mencatatkan performa negatif yang dipimpin oleh kemerosotan sektor material dasar sebesar 5,17% dan sektor transportasi sebesar 6,20%.

Sektor industri juga terkoreksi 3,25%, diikuti sektor energi yang turun 2,37%, sektor properti 2,22%, infrastruktur 2,98%, serta sektor teknologi sebesar 2,21%.

Kemerosotan indeks secara beruntun ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kondisi makro global, hingga langkah MSCI dan FTSE yang membekukan pasar saham Indonesia serta mengeluarkan beberapa emiten dari daftar konstituennya.

Artikel terkait

Rekomendasi