IAFMI Dorong Penguatan Manufaktur Pipa Lokal Guna Tekan Impor Migas

IAFMI Dorong Penguatan Manufaktur Pipa Lokal Guna Tekan Impor Migas
Foto: Ilustrasi IAFMI Dorong Penguatan Manufaktur Pipa Lokal Guna Tekan Impor Migas.

Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) mendesak penguatan industri penunjang migas nasional guna mengatasi ketergantungan impor peralatan dan keterbatasan teknologi pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini bertujuan agar sektor migas Indonesia mampu mengendalikan rantai pasok global secara optimal.

Kemandirian sektor ini menjadi sorotan dalam kunjungan IAFMI bersama Komunitas Migas Indonesia (KMI) ke fasilitas produksi pipa Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di Cilegon. Fokus utama diarahkan pada pengembangan manufaktur pipa seamless dalam negeri yang kini memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 46 persen.

Sekjen IAFMI Gede Pramona menyatakan bahwa penguatan industri penunjang, khususnya pipa tanpa sambungan, sangat diperlukan. Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, industri nasional saat ini masih berjuang menghadapi tantangan regulasi yang belum kompetitif serta kualitas sumber daya manusia.

Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas Hendrik Kawilarang Luntungan menegaskan perlunya transformasi Indonesia dari sekadar pasar menjadi produsen teknologi migas.

"Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal," jelas Hendrik Kawilarang Luntungan, Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas.

Perusahaan tersebut saat ini tercatat sebagai satu-satunya produsen seamless tube di tanah air yang telah merambah pasar Asia hingga Timur Tengah. Produk yang dihasilkan telah mengantongi standar internasional API 5CT dan API 5L untuk digunakan oleh berbagai kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).

Chairman Komunitas Migas Indonesia S Herry Putranto berpendapat bahwa keberanian untuk membangun industri mandiri harus dibarengi dengan kebijakan yang mendukung kepentingan nasional.

"PT Artas Energi memiliki sumber daya dan pasar. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun industri sendiri, dengan regulasi yang berpihak kepada kepentingan industri nasional serta investasi teknologi yang serius ditambah kesiapan SDM yang siap bersaing di kancah global," kata S Herry Putranto, Chairman Komunitas Migas Indonesia.

Para pelaku industri kini mengharapkan pemerintah mempercepat reformasi regulasi dan memperkuat ekosistem rantai pasok. Selain efisiensi biaya, peningkatan riset dan pengembangan (R&D) menjadi kunci untuk menciptakan industri migas yang lebih kompetitif di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi