Kerja sama perdagangan minyak dan gas (migas) antara China dan Rusia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hubungan intensif di sektor energi ini telah terbangun sejak Rusia terlibat konflik dengan Ukraina pada tahun 2022, di mana kedua negara menyepakati kemitraan tanpa batas.
Hubungan energi ini diprediksi menjadi pembahasan utama dalam pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Hal tersebut dikutip dari Reuters pada Rabu (20/5/2026).
Raksasa energi asal Rusia, Gazprom, tercatat telah menyalurkan gas alam ke Negeri Tirai Bambu melalui pipa Power of Siberia sepanjang 3.000 kilometer (km). Proyek strategis bernilai US$ 400 miliar tersebut telah beroperasi sejak akhir tahun 2019.
Volume ekspor melalui jalur tersebut melonjak sekitar 25 persen menjadi 38,8 miliar meter kubik (bcm) pada tahun 2025. Angka ini berhasil melampaui kapasitas tahunan yang direncanakan sebesar 38 bcm.
Selain itu, Beijing telah menyetujui pembelian gas hingga 10 bcm per tahun dari Pulau Sakhalin di wilayah timur jauh Rusia yang ditargetkan berjalan pada 2027. Kedua belah pihak kemudian sepakat menaikkan volume komoditas tersebut menjadi 12 bcm.
Meskipun demikian, pasokan gas Rusia ke China masih merupakan bagian kecil jika dibandingkan dengan rekor 177 bcm yang dikirim ke Eropa setiap tahun pada periode 2018-2019. Pangsa pasar Rusia dalam impor gas Uni Eropa mengalami penyusutan selama perang Ukraina, khususnya untuk aliran melalui pipa.
Rusia tetap menempati posisi sebagai pemasok gas alam cair (LNG) terbesar kedua bagi Uni Eropa pada tahun lalu dengan pangsa 16 persen. Namun, kesenjangan volume dengan Amerika Serikat sebagai mitra utama LNG Uni Eropa kini melebar signifikan.
Saat ini, Moskow dan Beijing masih melakukan negosiasi terkait proyek pipa baru Power of Siberia 2. Jalur ini dirancang mampu mengalirkan 50 bcm gas per tahun dari Rusia menuju China dengan melintasi wilayah Mongolia.
Gazprom sendiri telah memulai studi kelayakan proyek Power of Siberia 2 sejak 2020. Proyek ini menjadi kian mendesak bagi Rusia karena mereka membutuhkan China untuk menggantikan posisi Eropa sebagai konsumen gas utama.
Data bea cukai China menunjukkan ekspor LNG Rusia ke negara tersebut meningkat 18,2 persen menjadi 9,79 juta metrik ton pada tahun lalu. Posisi Rusia berada di bawah Australia dan Qatar sebagai pemasok LNG terbesar ketiga bagi China yang merupakan pembeli gas laut terbesar di dunia.
Selain gas, China menjadi mitra krusial Rusia untuk pengiriman minyak bumi melalui jalur laut maupun pipa. Aktivitas ekspor ini tetap terjaga tinggi di tengah sanksi ekonomi dari negara-negara Barat kepada Rusia.
Volume impor minyak China dari Rusia menyentuh angka 2,01 juta barel per hari (bpd) pada tahun 2025. Jumlah tersebut merepresentasikan 20 persen dari keseluruhan total impor minyak China berdasarkan volume.
Yury Ushakov selaku ajudan kebijakan luar negeri Putin menyatakan bahwa ekspor minyak Rusia ke China tumbuh sebesar 35 persen pada kuartal I-2026 dengan total mencapai 31 juta ton. China membeli minyak mentah jenis Siberia Timur-Samudra Pasifik yang dialirkan melalui pipa ESPO cabang Skovorodino-Mohe sepanjang 4.070 km.
Jalur pipa tersebut menghubungkan ladang minyak Rusia secara langsung ke fasilitas kilang di China serta pelabuhan Kozmino di Timur Jauh Rusia. Transneft, operator pipa minyak Rusia, mengonfirmasi sedang melakukan ekspansi jalur untuk mendongkrak ekspor lewat Kozmino dengan target rampung pada 2029.
Tingkat ketersediaan minyak campuran dari jalur pasokan tersebut terpantau tetap tinggi sejak Juli 2025, saat volume ekspor diperluas menjadi 1 juta barel per hari. Pihak Transneft terus mempertahankan volume pengiriman melalui Kozmino pada level tersebut.
Rusia juga telah menyepakati komitmen untuk menaikkan ekspor minyak ke China melalui wilayah Kazakhstan menggunakan pipa Atasu-Alashankou. Volume pengiriman ditingkatkan sebesar 2,5 juta ton per tahun sehingga totalnya menjadi 12,5 juta ton.