Produsen ponsel pintar asal China, HONOR, menyatakan komitmennya untuk tidak menaikkan harga produk di pasar Indonesia dalam waktu dekat. Langkah ini diambil di tengah tantangan krisis pasokan cip global serta fluktuasi pelemahan nilai tukar rupiah yang menekan industri teknologi.
Head of Public Relations HONOR Indonesia, Aryo Meidianto Aji, mengakui bahwa kenaikan biaya logistik dan kondisi mata uang memberikan tekanan besar bagi hampir seluruh produsen gadget saat ini. Dilansir dari Teknologi, perusahaan masih berupaya meredam dampak ekonomi tersebut melalui langkah-langkah strategis internal.
"Namun, sampai saat ini, HONOR sepertinya belum memiliki rencana untuk menaikkan harga smartphone dalam waktu dekat," kata Aryo Meidianto Aji, Head of Public Relations HONOR Indonesia.
Pihak manajemen menjelaskan bahwa efisiensi pada rantai pasok dan optimalisasi pada jalur produksi menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan harga konsumen. HONOR juga telah melakukan mitigasi terhadap potensi kelangkaan komponen dengan memperkuat kemitraan bersama pemasok utama seperti Qualcomm.
"Dengan begitu, konsumen merasa ÔÇÿworth itÔÇÖ meski budget terbatas," kata Aryo Meidianto Aji, Head of Public Relations HONOR Indonesia.
Kondisi pasar yang dinamis ini juga menjadi perhatian bagi produsen lain di tanah air yang memantau ketat perubahan perilaku pengguna. Marketing Director Xiaomi Indonesia, Andi Renreng, memberikan pandangannya mengenai ekspektasi pasar yang terus berkembang terhadap inovasi perangkat pintar.
"Hingga ekspektasi yang semakin tinggi terhadap inovasi dan pengalaman penggunaan yang lebih terintegrasi," kata Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia.
Tekanan industri secara luas terlihat dari laporan International Data Corporation (IDC) yang mencatat penurunan pengiriman smartphone global sebesar 4,1 persen pada kuartal I/2026. Data StatCounter sepanjang 2025 menunjukkan persaingan ketat di Indonesia dengan Samsung memimpin pasar sebesar 16,78 persen, diikuti Oppo 16,4 persen, dan Xiaomi 14,5 persen.
Research Analyst Devices Research IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, memprediksi bahwa keterbatasan komponen memori masih akan menjadi kendala utama bagi para vendor hingga tahun 2027 mendatang.
"Selain itu, keterbatasan pasokan juga telah mendorong kenaikan signifikan harga komponen memori. Hal ini semakin menekan vendor, karena kenaikan biaya input tidak hanya membatasi produksi, tetapi juga berkontribusi pada meningkatnya harga perangkat di pasar," kata Vanessa Aurelia, Research Analyst Devices Research International Data Corporation Indonesia.