Hasil Investasi Asuransi Syariah Merosot Jadi Negatif Rp 121 Miliar

Hasil Investasi Asuransi Syariah Merosot Jadi Negatif Rp 121 Miliar
Foto: Ilustrasi Hasil Investasi Asuransi Syariah Merosot Jadi Negatif Rp 121 Miliar.

Kinerja hasil investasi industri asuransi syariah di Indonesia mengalami tekanan signifikan hingga mencatatkan angka negatif sebesar Rp 121,84 miliar per Maret 2026 akibat gejolak pasar keuangan global dan domestik, dilansir dari Keuangan.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pembalikan performa yang tajam dibandingkan bulan sebelumnya, mengingat pada Februari 2026 hasil investasi industri tersebut masih membukukan surplus senilai Rp 545,24 miliar.

Di tengah tekanan industri, PT Zurich General Takaful Indonesia (Zurich Syariah) justru mencatatkan pertumbuhan hasil investasi lebih dari 15% secara tahunan dengan nilai mencapai Rp 62,96 miliar per Maret 2026.

ÔÇ£Peningkatan hasil investasi juga didukung oleh kenaikan premi Zurich Syariah, yang mencerminkan penguatan fundamental bisnis perusahaan,ÔÇØ kata Hilman kepada Kontan, Kamis (28/5/2026).

Pengelolaan portofolio yang strategis dinilai menjadi penopang kinerja Zurich Syariah, di mana instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) masih mendominasi aset karena menawarkan stabilitas dan imbal hasil menarik yang sesuai dengan liabilitas jangka panjang.

ÔÇ£Selain itu, kami juga melakukan diversifikasi ke instrumen lain, seperti deposito syariah dan obligasi korporasi syariah, untuk mengoptimalkan hasil investasi perusahaan,ÔÇØ katanya.

Sebagai langkah antisipasi hingga akhir tahun 2026, manajemen Zurich Syariah mengedepankan prinsip kehati-hatian melalui alokasi aset likuid serta pemantauan dinamis terhadap makroekonomi dan ketegangan geopolitik global.

Kondisi pasar yang bergejolak pada kuartal I-2026 ini juga diakui oleh PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) yang melihat adanya penyesuaian besar pada instrumen berbasis ekuitas.

ÔÇ£Hal ini menunjukkan bahwa instrumen berbasis ekuitas mengalami penyesuaian yang lebih signifikan dibandingkan instrumen lainnya,ÔÇØ ujar Vivin kepada Kontan.

Koreksi instrumen ekuitas tersebut tercermin dari pergerakan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang melemah di kisaran minus 5% hingga minus 6% secara kuartalan, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang lebih dalam.

ÔÇ£Perusahaan juga melakukan penempatan pada saham syariah secara selektif untuk menjaga potensi imbal hasil jangka panjang, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan kondisi pasar yang dinamis,ÔÇØ katanya.

Fluktuasi awal tahun yang dipengaruhi sentimen global, aliran dana investor, dan nilai tukar ini disiasati Prudential Syariah dengan mengandalkan sukuk pemerintah serta deposito syariah yang memberikan imbal hasil stabil di kisaran 5,5% sampai 5,9%.

Artikel terkait

Rekomendasi