Importir umum di Indonesia enggan memasarkan Yamaha PG-1 akibat potensi lonjakan harga jual yang sangat tinggi mencapai Rp 90 juta per unit. Kendala regulasi pajak dan bea masuk menjadi alasan utama motor bebek bergaya adventure tersebut belum masuk ke pasar domestik hingga pertengahan 2026.
Dilansir dari Otomotif, skema beban pajak bagi kendaraan berstatus Completely Built Up (CBU) dinilai terlalu berat bagi motor berkapasitas mesin kecil. Komponen biaya tersebut meliputi bea masuk, PPN 12 persen, PPh 22, hingga Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
Pemilik diler Safari Motor di Jakarta Barat, Kamal Firhad, mengungkapkan bahwa selisih harga antara pasar Thailand dan Indonesia akan sangat signifikan. Hal ini membuat importir harus mengalkulasi ulang kelayakan bisnis untuk mendatangkan unit secara mandiri.
"Yamaha PG-1 itu mahal banget, dari Thailand. Di sana itu kan sama kayak Honda CT125, kisaran harga Rp 30 jutaan sampai Rp 40 jutaan. Kalau sampai di sini bisa tembus Rp 90 juta," ujar Kamal, kepada Kompas.com (11/5/2026).
Secara spesifikasi, motor ini mengandalkan mesin 114 cc 4-tak berpendingin udara yang mampu menghasilkan tenaga 8,7 PS. Meski memiliki daya tarik visual melalui desain retro-modern dan suspensi depan panjang, banderol harga yang tinggi dianggap tidak kompetitif untuk segmen moped hobi.
Di sisi lain, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) memberikan sinyal bahwa fokus perusahaan saat ini masih tertuju pada model yang sudah ada. Manager Public Relation Community & YRA PT YIMM, Rifki Maulana, menyebutkan dinamika pasar motor bebek di Indonesia memiliki karakter yang berbeda.
"PG-1 di market yang demand moped-nya tinggi. Tinggi itu masih memang bisa dibilang 50:50 lah sama skuter gitu. Itu memang hype," ujar Rifki kepada wartawan pada April lalu.
Rifki menambahkan bahwa dominasi skuter matik yang sangat kuat telah menggeser preferensi konsumen secara nasional. Saat ini, pasar motor bebek dinilai telah menjadi segmen yang sangat spesifik dan terbatas.
"Semua moped di Indonesia itu berapa besar sih? Dari demand secara nasional yang sebesar itu, tiga unit yang masih kita punya untuk jual kita rasa masih cukup untuk kebutuhan pasar Indonesia," kata Rifki.
Penjelasan tersebut mempertegas bahwa Yamaha PG-1 belum menjadi prioritas utama untuk diproduksi atau dijual secara resmi di tanah air. Konsumen yang menginginkan unit ini harus bersiap menghadapi harga tinggi jika menempuh jalur impor independen.