Pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyoroti ketimpangan harga Toyota Alphard di pasar domestik yang mencapai dua kali lipat lebih mahal dibandingkan harga di Jepang pada Kamis (16/4/2026).
Dilansir dari Detik Oto, kendaraan mewah tersebut dijual mulai dari Rp 1,2 miliar di Indonesia, sedangkan di negara asalnya hanya dibanderol sekitar 5,1 juta yen atau setara Rp 540 jutaan.
Agus Purwadi menilai kondisi ini cukup ironis mengingat pendapatan domestik bruto (GDP) Jepang yang mencapai US$ 4,2 triliun jauh melampaui Indonesia yang hanya berada di angka US$ 1,4 triliun.
"Aneh kan? Orang Jepang income-nya lebih tinggi dari kita, tapi beli Alphard yang sama harganya lebih murah dari kita. Mungkin argumentasinya karena Alphard produksi sana, tapi nggak seperti itu juga," ujar Agus Purwadi, Pengamat Otomotif ITB.
Pakar otomotif tersebut juga menemukan kejanggalan lain terkait harga mobil rakitan dalam negeri yang justru dijual lebih terjangkau saat memasuki pasar internasional.
"Terus yang lebih aneh lagi, ada mobil diproduksi di Indonesia, pas diekspor ke Thailand harganya lebih murah. Ini kan sudah jelas kalau ada something wrong," tambah Agus Purwadi, Pengamat Otomotif ITB.
Tingginya beban pajak di dalam negeri diidentifikasi sebagai faktor utama yang mendongkrak harga jual, di mana pungutan tersebut mencakup 40 persen dari total nilai kendaraan.
Menurut Agus, angka ideal pajak kendaraan di Indonesia seharusnya hanya berkisar 15-20 persen agar selaras dengan kondisi ekonomi negara-negara yang serupa dengan Tanah Air.
"Padahal Jepang transportasi publiknya luar biasa bagus. Jadi artinya beli mobil memang mahal, harus orang kaya. Tapi mereka nggak gila (soal pajak kendaraan), mereka tetap rasional," tutur Agus Purwadi, Pengamat Otomotif ITB.
Ia menegaskan bahwa kebijakan di Jepang lebih menitikberatkan pada pemajakan aktivitas ekonomi dibandingkan pada instrumen penunjang yang justru dapat menghambat produktivitas.
"Kenapa Jepang bisa begitu? Karena policy mereka yang dipajakin adalah economic activity-nya. Bukan alat-alat yang justru membuat economic activity-nya mahal. Jadi nggak produktif," kata Agus Purwadi, Pengamat Otomotif ITB.