Pasar logam mulia mencatatkan sejarah baru dengan lonjakan harga perak yang menembus angka psikologis US$100 per ons. Tren penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya minat investor terhadap aset aman akibat ketidakpastian global.
Dilansir dari Investortrust, harga perak spot terpantau melonjak hingga 4,5 persen ke level US$100,49 per ons pada Jumat, 24 Januari 2026. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, komoditas ini telah mencatatkan kenaikan fantastis lebih dari 200 persen.
Philip Newman, Direktur di Metals Focus, menjelaskan bahwa perak mendapatkan dorongan dari faktor yang serupa dengan emas. Kenaikan ini juga dipicu kekhawatiran terkait kebijakan tarif dan rendahnya likuiditas fisik di pasar London.
"Perak seharusnya terus mendapatkan manfaat dari banyak faktor yang sama yang menopang permintaan investasi emas. Dukungan tambahan akan datang dari kekhawatiran tarif yang berkelanjutan dan masih rendahnya likuiditas fisik di pasar London," kata Philip Newman.
Selain faktor investasi, tantangan dalam meningkatkan kapasitas pemurnian turut memperketat pasokan di pasar. Kondisi defisit pasokan yang terus-menerus menjadi katalis utama di balik reli harga perak yang agresif sepanjang tahun.
Kenaikan signifikan ini membuat para pelaku pasar mengamati kekuatan harga tersebut untuk bertahan. Spekulasi mengenai aksi ambil untung menjadi perhatian utama setelah harga mencapai tonggak sejarah baru tersebut.
"Para trader secara bertahap mendorong dan berhasil mencapai tonggak US$100; investor kini akan menunggu apakah harga ini dapat bertahan hingga penutupan atau akan terjadi aksi ambil untung dari spekulan baru-baru ini," kata Tai Wong, pedagang logam independen.
Sementara itu, harga emas spot juga merangkak naik 0,8 persen menuju level US$4.976,49 per ons. Logam mulia ini sempat menyentuh rekor tertinggi harian pada posisi US$4.988,17 dan kini semakin mendekati level psikologis US$5.000 per ons.
"Peran emas sebagai aset lindung nilai dan diversifikasi di masa ketidakpastian ekonomi dan politik yang tinggi menjadikannya kebutuhan bagi portofolio strategis. Ini lebih dari sekadar badai sempurna yang bersifat sementara; ini merupakan tanda perubahan zaman yang fundamental," tambah Wong.
Lonjakan permintaan aset lindung nilai ini didorong oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan NATO terkait wilayah Greenland sejak awal 2026. Selain itu, pasar juga mencemaskan independensi Federal Reserve serta ketidakpastian kebijakan tarif global.
Bank-bank sentral dunia dilaporkan terus melakukan aksi beli emas sebagai langkah diversifikasi dari dolar AS. Kebijakan moneter The Fed yang diprediksi akan menurunkan suku bunga pada paruh kedua 2026 semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Tidak hanya emas dan perak, logam mulia lainnya seperti platinum juga mencatatkan performa gemilang. Platinum berhasil menyentuh rekor tertinggi pada level US$2.749,2 per ons dengan kenaikan harian sebesar 4 persen.
Lembaga perbankan HSBC menilai platinum menarik bagi investor sebagai alternatif investasi yang lebih terjangkau dibandingkan emas. Pasar memperkirakan defisit struktural platinum akan semakin melebar hingga mencapai 1,2 juta ons pada tahun ini.
| Jenis Logam Mulia | Harga Spot (US$/ons) | Kenaikan Persentase |
|---|---|---|
| 100,49 | 4,5% | 4.976,49 |
| 0,8% | 2.735,00 | 4,0% |
Sepanjang tahun lalu, emas telah melewati berbagai tonggak sejarah penting mulai dari US$3.000 pada bulan Maret hingga US$4.000 pada Oktober. Perubahan mendasar dalam peta ekonomi global terus menempatkan logam mulia sebagai pilihan utama dalam portofolio investasi strategis.