Harga Perak Ambles 3,7 Persen Dipicu Fenomena Demand Destruction

Harga Perak Ambles 3,7 Persen Dipicu Fenomena Demand Destruction
Foto: Ilustrasi Harga Perak Ambles 3,7 Persen Dipicu Fenomena Demand Destruction.

Tren kenaikan tajam harga perak yang sempat terjadi sepanjang tahun 2025 kini berbalik arah. Dilansir dari Investor Daily, sejumlah analis mengingatkan bahwa lonjakan harga yang terlampau tinggi telah memicu fenomena penurunan permintaan secara drastis (demand destruction) dari para pembeli.

Dampaknya, nilai komoditas logam mulia ini diprediksi masih bisa merosot lebih dalam dari rekor tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya. Sebagai logam dengan fungsi industri yang luas, perak memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi terhadap siklus ekonomi jika dibandingkan dengan emas.

Perak menjadi komponen esensial dalam berbagai produk manufaktur, mulai dari komputer, ponsel pintar, panel surya, hingga komponen otomotif. Dalam catatan riset yang dirilis pada 22 Mei 2026, lembaga keuangan UBS mengungkapkan bahwa lonjakan harga perak yang mencapai 140% pada tahun lalu mulai membuat pelaku industri enggan membeli.

Tingginya harga komoditas ini kini menjadi beban bagi tingkat permintaan global saat ini.

"Erosi permintaan ini kemungkinan besar akan terus berlanjut selama harga tetap bertahan di level saat ini," tulis analis UBS seperti dikutip CNBC internasional, Kamis (28/5/2026).

Lembaga keuangan UBS juga menambahkan bahwa perak tidak mempunyai jangkar strategis seperti emas yang selalu disokong oleh aksi beli kuat dari bank-bank sentral dunia. Perak absen dari cadangan resmi sektor publik, sehingga pergerakannya jauh lebih rentan terhadap pergeseran investasi swasta serta permintaan industri.

Kondisi tersebut membuat kinerja perak berpotensi tertinggal di belakang emas. Perjalanan harga perak memang sangat fluktuatif belakangan ini. Puncaknya terjadi pada 28 Januari tahun ini, ketika harga perak sempat menembus angka psikologis US$ 120 per ons, sebelum akhirnya mengalami kejatuhan masif hampir 30% hanya dalam waktu satu hari.

Meskipun sempat merosot ke level terendah pada 2026 di angka US$ 67,60 per ons pada 20 Maret 2026, harganya sempat merangkak naik kembali. Namun, angka tersebut dinilai masih berada jauh di bawah level sebelum pecahnya ketegangan perang Iran.

Pada perdagangan Kamis ini, harga perak di pasar spot terpantau anjlok 3,7% ke kisaran US$ 72,13 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka perak AS untuk bulan terdekat juga ikut melemah 3,7% dan menetap di level US$ 72,16 per ons.

Senada dengan UBS, para analis dari HSBC menilai harga perak saat ini sudah fundamentally overvalued, yang berarti harganya berada jauh di atas nilai fundamentalnya. Mereka memproyeksikan arah tren perak akan mulai terpisah dari pergerakan emas.

"Kami melihat ruang penguatan lebih lanjut sudah sangat terbatas karena harga perak saat ini terlalu mahal. Rasio emas terhadap perak (gold-to-silver ratio) kemungkinan akan melebar. Ini membuat harga perak berpotensi melandai meskipun harga emas nantinya kembali menguat," tulis HSBC dalam laporan terbarunya, Kamis.

Di sisi lain, analis dari Macquarie juga melihat kecilnya peluang bagi perak untuk mengalami rebound besar dalam waktu dekat. Strategis mereka memperkirakan Bank Sentral AS (The Fed) baru akan menaikkan suku bunga pada paruh pertama tahun 2027 untuk meredakan tekanan inflasi komoditas.

"Meskipun kami memperkirakan rata-rata harga perak akan bertahan di level ini sepanjang sisa tahun, volatilitas akan tetap tinggi sampai situasi di Timur Tengah mereda. Ada risiko penurunan (downside risk) yang nyata jika kondisi makroekonomi global kian memburuk," pungkas analis Macquarie.

Memahami Fenomena Demand Destruction

Demand destruction atau kehancuran permintaan merupakan sebuah fenomena ekonomi di mana harga suatu komoditas naik begitu tinggi dan bertahan lama, hingga menyebabkan konsumen atau industri menghentikan pembelian. Konsumen kemudian mencari bahan alternatif (substitusi) atau memangkas kapasitas produksi mereka.

Berbeda dengan emas yang mayoritas berfungsi sebagai aset aman (safe haven) dan disimpan di brankas bank sentral, sekitar 50-60% permintaan perak dunia datang dari sektor industri. Perak banyak digunakan dalam industri teknologi hijau seperti panel surya (fotovoltaik) dan kendaraan listrik (electric vehicle/ EV).

Ketika harga perak melonjak hingga 140% pada tahun 2025 akibat spekulasi pasar dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah (perang Iran), biaya produksi manufaktur global ikut membengkak. Akibatnya, para pelaku industri mulai mengurangi penggunaan perak, yang pada akhirnya memicu pembalikan arah harga berupa koreksi tajam sepanjang tahun 2026 ini.

Artikel terkait

Rekomendasi