Harga Minyakita Melambung Jelang Iduladha Meski Pangan Lain Stabil

Harga Minyakita Melambung Jelang Iduladha Meski Pangan Lain Stabil
Foto: Ilustrasi Harga Minyakita Melambung Jelang Iduladha Meski Pangan Lain Stabil.

Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan melaporkan stabilitas harga mayoritas komoditas pangan di pasar tradisional menjelang Iduladha pada Rabu (29/4/2026). Meski demikian, harga minyak goreng subsidi Minyakita tercatat masih melambung dan belum menyentuh Harga Eceran Tertinggi (HET).

Dilansir dari Ekonomi, pergerakan harga beras saat ini terpantau masih berada di sekitar level HET. Di sisi lain, sejumlah komoditas hortikultura di wilayah Jabodetabek justru menunjukkan tren penurunan harga di tengah permintaan masyarakat yang belum mengalami lonjakan signifikan.

Data pasar menunjukkan cabai rawit merah dibanderol Rp71.000 hingga Rp72.000 per kilogram, sementara cabai merah besar berada di posisi Rp59.000. Untuk komoditas bawang, bawang merah dijual seharga Rp51.000 dan bawang putih dipatok pada angka Rp42.000 per kilogram.

Sektor protein juga menunjukkan dinamika harga yang beragam dengan harga ayam menurun ke Rp42.000 per ekor dan telur stabil pada Rp29.000 per kilogram. Sebaliknya, harga daging sapi masih bertahan tinggi pada kisaran Rp142.000 hingga Rp143.000 per kilogram.

Situasi harga ini dianggap masih dalam batas kewajarannya oleh pihak pedagang pasar. Hal ini disebabkan oleh pola konsumsi masyarakat yang belum mencapai titik puncak menjelang hari besar keagamaan tersebut.

"Permintaannya masih normal. Belum berlipat seperti biasanya mendekati satu minggu sebelum Idul Adha," ujar Reynaldi Sarijowan, Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi).

Kondisi berbeda terlihat pada komoditas minyak goreng curah yang menyentuh angka Rp22.000 hingga Rp22.500 per liter. Ikappi menilai fenomena tingginya harga Minyakita ini merupakan anomali yang memerlukan solusi konkret dari pemerintah agar bisa kembali sesuai ketentuan.

"Minyakita ini masih relatif tinggi dan tidak menuju HET maka harus ada solusi alternatif," kata Reynaldi Sarijowan, Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi).

Kenaikan tersebut diduga dipicu oleh beban biaya produksi yang tinggi, terutama pada material bahan baku kemasan impor. Ikappi memandang perlu adanya penguatan distribusi pasokan secara masif di wilayah dengan konsumsi tinggi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Minyakita perlu dilakukan suplai yang cukup masif di beberapa titik yang rawan," ujar Reynaldi Sarijowan, Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi).

Organisasi pedagang pasar tersebut menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam menyalurkan pasokan ke seluruh pasar tradisional. Langkah ini diharapkan dapat menjamin pemerataan stok dan menjaga stabilitas harga saat memasuki periode puncak permintaan.

Artikel terkait

Rekomendasi