Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump Isyaratkan Kesepakatan dengan Iran

Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump Isyaratkan Kesepakatan dengan Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump Isyaratkan Kesepakatan dengan Iran.

Harga minyak mentah global mengalami penurunan signifikan pada Rabu (6/5/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan harapan tercapainya kesepakatan dengan Iran guna mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data Tradingview yang dilansir dari Market, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi sebesar 1,64 persen menuju level US$100,59 per barel, sementara harga minyak Brent juga melemah 1,64 persen ke posisi US$108,07 per barel.

Penurunan ini membalikkan tren awal pekan saat harga energi sempat melonjak hingga lebih dari 6 persen akibat eskalasi serangan di wilayah tersebut. Sentimen pasar berubah setelah Trump mengumumkan rencana penangguhan operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz.

Donald Trump menjelaskan melalui media sosial bahwa Project Freedom, yang merupakan operasi pengamanan pelayaran pimpinan AS, akan dihentikan sementara demi memfinalisasi kesepakatan. Trump menyebut kemajuan besar telah tercapai untuk menuju penyelesaian akhir dengan pihak Iran.

Meski demikian, Trump memberikan penekanan bahwa pihaknya tetap melakukan langkah tegas terhadap arus keluar-masuk kapal di pelabuhan Iran sebagai instrumen tekanan ekonomi terhadap negara tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut memberikan pernyataan terkait situasi keamanan di kawasan tersebut. Rubio mengeklaim bahwa fase awal dari rangkaian serangan militer AS-Israel ke wilayah Iran telah berakhir.

ÔÇ£Kami lebih memilih jalur damai. Yang diinginkan presiden adalah sebuah kesepakatan,ÔÇØ ujar Rubio kepada wartawan.

Rubio mengindikasikan bahwa tujuan strategis Washington dalam operasi tersebut telah tercapai. Di sisi lain, otoritas Iran belum memberikan respons resmi terhadap klaim Amerika Serikat mengenai kemajuan kesepakatan damai ini.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, sebelumnya sempat memberikan peringatan mengenai posisi negaranya dalam dinamika konflik yang sedang berlangsung.

"Kami memahami bahwa mempertahankan status quo tidak dapat ditoleransi oleh Amerika, sementara kami baru saja memulai," katanya.

Ketegangan ini bermula sejak Teheran mengancam akan mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan gabungan sejak 28 Februari 2026. Jalur strategis tersebut sangat vital karena menjadi perlintasan seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Secara keseluruhan, fluktuasi harga masih berada pada tren tinggi sejak berlakunya gencatan senjata bersyarat pada 8 April 2026. Situasi semakin kompleks dengan tuduhan Uni Emirat Arab mengenai serangan Iran terhadap pelabuhan minyak mereka, yang dibantah keras oleh Teheran.

Artikel terkait

Rekomendasi