Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak Imbas Eskalasi Ketegangan Selat Hormuz

Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak Imbas Eskalasi Ketegangan Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak Imbas Eskalasi Ketegangan Selat Hormuz.

Harga minyak mentah dunia mencatatkan kenaikan setelah sempat mengalami penurunan tajam. Berdasarkan data yang dilansir dari Internasional, komoditas minyak mentah Brent merangkak naik 81 sen atau 0,77% menuju angka US$ 105,83 per barel pada pukul 00.55 GMT.

Kenaikan ini juga diikuti oleh minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat. Jenis minyak tersebut dilaporkan menguat sebesar 97 sen atau 0,99% hingga menyentuh level US$ 99,23 per barel.

Sebelum lonjakan ini terjadi, kedua kontrak acuan minyak dunia itu sempat merosot hingga lebih dari 5,6% pada Rabu (20/5/2026). Penurunan terdahulu dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan bahwa proses negosiasi dengan pihak Iran sudah memasuki tahapan akhir.

Kendati demikian, situasi kembali menegang setelah Trump melontarkan peringatan mengenai potensi serangan lanjutan. Langkah itu akan diambil apabila kesepakatan damai antar kedua belah pihak berujung pada kegagalan.

Merespons ancaman tersebut, pihak Iran memberikan peringatan keras agar tidak ada serangan tambahan yang diarahkan kepada mereka. Di saat yang sama, Iran mengumumkan kebijakan untuk memperketat kendali terhadap Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat krusial bagi pasokan energi global. Sebelum periode peperangan pecah, kawasan maritim ini mengalirkan sekitar 20% dari total konsumsi minyak serta gas alam cair di seluruh dunia.

Analis dari Haitong Futures, Yang An, memberikan pandangan terkait fluktuasi yang terjadi di pasar energi ini. Menurut penilaiannya, kemerosotan harga yang sempat terjadi sebelumnya mencerminkan ekspektasi besar dari para pelaku pasar.

"Namun jika Trump tetap bersikeras tanpa memberikan konsesi kepada Iran, maka kesepakatan tampaknya sulit tercapai dan hasil akhir negosiasi dapat berubah drastis," ujar Yang.

Langkah taktis Iran dipertegas pada Rabu dengan pembentukan lembaga baru yang dinamakan Persian Gulf Strait Authority. Otoritas teranyar ini mengemban tugas khusus untuk meregulasi wilayah yang disebut sebagai zona maritim terkendali di Selat Hormuz.

Penutupan sebagian jalur di Selat Hormuz telah diberlakukan secara efektif oleh Iran. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk respons perlawanan terhadap rangkaian serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas pertempuran sebenarnya telah mereda sejak kesepakatan gencatan senjata pada April. Walau begitu, Iran tetap membatasi pergerakan kapal di Selat Hormuz, sementara militer Amerika Serikat menerapkan blokade di sepanjang garis pantai Iran.

Penyusutan Drastis Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat

Dampak dari hambatan pasokan yang berasal dari wilayah Timur Tengah ini mulai dirasakan secara global. Kondisi tersebut memaksa sejumlah negara untuk mulai menguras simpanan minyak komersial maupun cadangan strategis mereka dalam waktu cepat.

Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) merilis laporan resmi mengenai situasi energi domestik mereka. Lembaga tersebut mencatat bahwa pemerintah AS telah melakukan penarikan hampir 10 juta barel minyak dari cadangan strategis pada pekan lalu.

Volume penarikan tersebut tercatat sebagai penurunan cadangan minyak paling masif yang pernah terjadi dalam sejarah Amerika Serikat. Selain cadangan strategis, persediaan minyak mentah komersial milik AS juga mengalami penyusutan.

EIA memaparkan bahwa stok komersial tersebut merosot sebanyak 7,9 juta barel, sehingga kini tersisa berada di angka 445 juta barel. Jumlah penurunan ini jauh melampaui prediksi awal para analis dalam survei Reuters yang memperkirakan depresiasi hanya sebesar 2,9 juta barel.

Di sektor produk turunan, persediaan bahan bakar bensin terpantau ikut mengalami penurunan sebesar 1,5 juta barel. Di sisi lain, komoditas persediaan distilat justru menunjukkan pergerakan sebaliknya dengan kenaikan tipis sebanyak 372.000 barel.

Chief Researcher Energy and Chemicals China Futures, Mingyu Gao, memproksimasikan bahwa tren penurunan stok ini akan memberikan tekanan kuat pada pergerakan harga ke depan. Penurunan cadangan dinilai akan menyulitkan harga komoditas ini untuk bertahan di level rendah.

"Dengan Selat Hormuz yang diblokade, persediaan produk olahan dan minyak mentah global diperkirakan turun ke level terendah untuk periode ini dalam lima tahun terakhir pada akhir Mei dan akhir Juni," ujar Gao.

Artikel terkait

Rekomendasi