Harga Minyak Mentah Brent dan WTI Ambles Hampir Tujuh Persen

Harga Minyak Mentah Brent dan WTI Ambles Hampir Tujuh Persen
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Mentah Brent dan WTI Ambles Hampir Tujuh Persen.

Grafik harga minyak mentah dunia terjun bebas hingga hampir tujuh persen pada sesi perdagangan hari Senin waktu setempat. Penurunan tajam ini dipicu oleh munculnya sentimen optimisme di kalangan pelaku pasar terkait peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Langkah diplomatik ini diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz setelah diblokade selama berbulan-bulan.

Koreksi dalam melanda dua instrumen acuan minyak internasional di tengah volume perdagangan yang cenderung sepi karena bertepatan dengan hari libur Memorial Day di AS, seperti dilaporkan oleh Reuters yang dikutip dari Suara. Kontrak berjangka Brent merosot tajam sebesar USD 7,24 atau ambles hampir 7% hingga mendarat di posisi USD 96,30 per barel. Sementara itu, produk minyak standar AS, West Texas Intermediate (WTI), jatuh sebesar USD 6,30 atau susut 6,5% ke level USD 90,88 per barel.

Aksi jual masif di bursa komoditas ini terjadi pasca-beredarnya laporan bahwa sejumlah pejabat tinggi Iran telah tiba di Doha untuk menggelar diplomasi intensif dengan Perdana Menteri Qatar. Pertemuan tersebut murni ditujukan untuk merancang draf perjanjian dengan Washington guna mengakhiri konflik bersenjata yang telah berkecamuk selama tiga bulan terakhir.

Kedua belah pihak dilaporkan menunjukkan kemajuan signifikan dalam penyusunan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU). Draf kerja sama ini diproyeksikan dapat menghentikan peperangan sekaligus membuka jalan menuju negosiasi kesepakatan final dalam kurun waktu 60 hari ke depan.

"sangat baik"

Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa proses diskusi dengan Teheran tengah bergulir dengan "sangat baik". Kendati demikian, Trump tetap melayangkan draf peringatan bahwa opsi aksi militer baru tetap terbuka apabila meja perundingan berakhir buntu. Pada kesempatan itu, Trump juga kembali menyerukan agar lebih banyak negara Arab dan mayoritas Muslim bersedia bergabung dalam Abraham Accords.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran memberikan klarifikasi bahwa ruang lingkup diplomasi saat ini murni difokuskan pada upaya penghentian konflik militer, dan belum menyentuh ranah pembahasan isu nuklir.

Pemulihan Infrastruktur Selat Hormuz Membutuhkan Waktu

Meskipun lantai bursa merespons kabar ini dengan penuh gairah, para analis industri energi mengingatkan agar pelaku pasar tidak bersikap terlalu euforia. Proses pemulihan arus minyak secara total yang melintasi Selat Hormuz diperkirakan tetap memakan waktu berbulan-bulan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya infrastruktur serta fasilitas energi yang mengalami kerusakan fisik dan membutuhkan renovasi besar sebelum operasional logistik dapat dinormalisasi sepenuhnya.

"Terlepas dari catatan teknis pemulihan kilang, indikator pergerakan kapal kargo mulai memperlihatkan sinyal awal perbaikan lalu lintas di jalur perairan vital tersebut," tulis lembaga pemantau maritim dalam risetnya.

Berdasarkan data pelacakan kapal tanker terbaru, sejumlah armada pengangkut gas alam cair (LNG) dilaporkan telah berhasil berlayar melewati selat strategis tersebut menuju negara tujuan seperti Pakistan, China, dan India. Selain itu, sebuah kapal supertanker yang membawa pasokan minyak mentah milik Irak dengan tujuan China juga dilaporkan telah melanjutkan pelayarannya setelah sempat tertahan selama hampir tiga bulan akibat konflik.

Artikel terkait

Rekomendasi