Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan hampir 3 persen pada Jumat (24/1/2026) menyusul kebijakan Amerika Serikat yang memperketat sanksi terhadap pengiriman minyak Iran. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kendala produksi di Kazakhstan menjadi faktor utama yang memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Kenaikan nilai komoditas ini dilatarbelakangi oleh langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Dilansir dari Investortrust, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Maret ditutup menguat US$1,82 atau 2,84 persen ke level US$65,88 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,71 atau 2,88 persen menjadi US$61,07 per barel.
Departemen Keuangan Amerika Serikat secara resmi merilis sanksi terhadap sembilan kapal dan delapan perusahaan yang teridentifikasi memfasilitasi pengangkutan produk minyak Iran. Selain tekanan ekonomi, Washington juga mengonfirmasi pengiriman armada militer yang mencakup kapal induk dan kapal perusak rudal menuju wilayah Timur Tengah sebagai bentuk eskalasi pengawasan.
Di belahan dunia lain, pasokan minyak global semakin tertekan akibat terhentinya operasional di ladang minyak Tengiz, Kazakhstan. Chevron melaporkan bahwa produksi di wilayah tersebut belum pulih sepenuhnya setelah insiden kebakaran yang memaksa penghentian operasi sejak Senin awal pekan ini.
Gangguan di Kazakhstan diperparah oleh kerusakan jalur ekspor utama di Laut Hitam akibat serangan drone Ukraina. JP Morgan memproyeksikan produksi minyak mentah Kazakhstan hanya akan mencapai rata-rata 1 juta hingga 1,1 juta barel per hari pada Januari, turun drastis dari tingkat normal sebesar 1,8 juta barel per hari.
Sebelumnya, fluktuasi harga juga dipengaruhi oleh dinamika hubungan diplomatik terkait wilayah Greenland. Meski sempat memicu kenaikan harga pada awal pekan, tekanan pasar sedikit mereda setelah adanya pengumuman mengenai akses penuh wilayah tersebut bagi kepentingan strategis Amerika Serikat.
"akses penuh" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Kamis setelah tercapainya kesepakatan antara Denmark, NATO, dan Amerika Serikat yang meredakan ancaman tarif sebelumnya terhadap Eropa. Saat ini, fokus pasar tetap tertuju pada kapasitas produksi Iran yang merupakan produsen terbesar keempat di OPEC dengan volume sekitar 3,2 juta barel per hari.