Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada Kamis (21/5/2026) setelah Pemimpin Tertinggi Iran dilaporkan melarang pengiriman uranium tingkat senjata ke luar negeri. Langkah Teheran ini memperkeras posisi mereka terhadap tuntutan Amerika Serikat di tengah upaya penghentian perang AS-Israel di Iran.
Lonjakan harga minyak mentah Brent mencapai US$ 3,51 atau 3,3 persen menjadi US$ 108,53 per barel pada pukul 13.30 GMT, seperti dilansir dari Internasional. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turut meningkat US$ 3,67 atau 3,7 persen ke posisi US$ 101,93 per barel.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan perdagangan hari Rabu saat harga patokan turun sekitar 5,6 persen ke level terendah dalam sepekan akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai pembicaraan tahap akhir dengan Iran. Pakistan kini meningkatkan upaya diplomatik untuk mempercepat negosiasi damai, sementara Trump menyatakan bersedia menunggu jawaban tepat atau melanjutkan serangan.
Analis dari institusi keuangan turut memberikan pandangan mengenai perkembangan situasi geopolitik global ini terhadap fluktuasi pasar komoditas energi.
"Kita telah berada dalam situasi ini beberapa kali sebelumnya, yang pada akhirnya menyebabkan kekecewaan," kata analis ING.
Pihak ING memproyeksikan harga minyak Brent akan berada pada angka rata-rata US$ 104 per barel untuk kuartal berjalan ini. Ketegangan semakin meningkat setelah Iran memperkuat kendali atas Selat Hormuz yang menjadi jalur transportasi bagi 20 persen konsumsi minyak dan gas alam cair global sebelum perang berkecamuk.
Dampak ekonomi akibat konflik ini juga mulai menekan aktivitas manufaktur dan permintaan layanan di sejumlah kawasan Eropa Barat.
"Kita telah melihat aktivitas ekonomi di zona euro menyusut pada tingkat paling tajam dalam lebih dari 2,5 tahun pada bulan Mei karena lonjakan biaya hidup akibat perang menghantam permintaan layanan di seluruh Eropa dan perusahaan mempercepat PHK," tulis survei yang dirilis pada hari Kamis.
Kekhawatiran mengenai pasokan energi global pada bulan-bulan mendatang turut disampaikan oleh perwakilan dari lembaga energi internasional.
"Awal puncak permintaan bahan bakar musim panas yang dikombinasikan dengan kurangnya ekspor minyak baru dari Timur Tengah dan menipisnya persediaan dapat mendorong pasar minyak ke "zona merah" pada Juli-Agustus," kata kepala Badan Energi Internasional Fatih Birol.
Meskipun demikian, pemulihan jalur pasokan utama diperkirakan memakan waktu yang cukup lama walaupun konflik bersenjata dapat segera diselesaikan.
"Bebenah pasokan minyak penuh melalui Selat Hormuz tidak akan kembali sebelum kuartal pertama atau kedua tahun 2027, bahkan jika konflik Timur Tengah berakhir sekarang," kata CEO ADNOC Sultan Al Jaber.
Konflik maritim di wilayah tersebut telah berjalan sejak Iran membentuk Otoritas Selat Teluk Persia baru yang mengontrol lalu lintas kapal. Penghentian arus pasokan dari Timur Tengah memaksa Amerika Serikat menarik hampir 10 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis mereka minggu lalu, yang tercatat sebagai penarikan terbesar dalam sejarah.