Negosiasi Damai Iran Gagal Harga Minyak Global Melonjak Tajam

Negosiasi Damai Iran Gagal Harga Minyak Global Melonjak Tajam
Foto: Ilustrasi Negosiasi Damai Iran Gagal Harga Minyak Global Melonjak Tajam.

Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kegagalan negosiasi damai dengan Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi di Selat Hormuz dan memanaskan tensi geopolitik global.

Berdasarkan data Reuters yang dilansir dari Suara, harga minyak Brent meroket 2,88 persen ke level US$ 104,21 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 2,78 persen menjadi US$ 98,07 per barel. Tekanan harga ini terus berlanjut hingga Selasa (12/5/2026) pagi waktu Indonesia dengan tren penguatan tipis pada kedua tolok ukur tersebut.

Kenaikan drastis ini mengakhiri masa koreksi harga pekan lalu yang sempat turun 6 persen saat pasar masih optimis terhadap proses diplomasi. Sentimen berubah seketika setelah Trump menolak jawaban terbaru Iran atas proposal damai yang diajukan pihak Amerika Serikat.

Mengenai kondisi gencatan senjata yang sedang berlangsung, Donald Trump menyebut statusnya sedang berada di ambang kematian.

"on life support" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Politisi Partai Republik tersebut juga memberikan penegasan terkait sikap pemerintahannya yang tidak bisa menerima tawaran solusi dari pihak Teheran dalam pertemuan terakhir.

"tidak dapat diterima" tegas Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Meskipun pasar energi sedang bergejolak, Trump menyatakan dirinya tidak merasa tertekan untuk segera mengambil keputusan strategis. Ia memprediksi stabilitas ekonomi dan harga minyak akan pulih dengan sendirinya segera setelah konflik bersenjata berakhir.

Dari sisi ketersediaan barang, Saudi Aramco mengungkapkan bahwa sekitar satu miliar barel minyak telah hilang dari pasar global dalam periode dua bulan terakhir. Kelangkaan ini diperparah oleh kebijakan OPEC+ yang memangkas produksi harian sebesar 830.000 barel pada April lalu akibat hambatan ekspor di zona konflik.

Keamanan di Selat Hormuz dilaporkan semakin memburuk hingga memaksa sejumlah kapal tanker besar melakukan prosedur pelayaran tanpa lampu navigasi untuk menghindari serangan. Kondisi ini memicu inflasi harga kebutuhan pokok di Amerika Serikat akibat kenaikan biaya logistik yang berdampak pada turunnya tingkat kepercayaan publik terhadap kebijakan luar negeri Gedung Putih.

Artikel terkait

Rekomendasi