Harga minyak mentah global mengalami lonjakan signifikan lebih dari 1 persen pada Rabu, 28 Januari 2026, menyusul peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai pergerakan armada militer besar menuju Iran. Ketegangan geopolitik ini memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Investortrust, harga minyak acuan Brent tercatat naik 83 sen atau 1,23 persen hingga menyentuh level US$68,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat mengalami kenaikan 82 sen atau 1,31 persen ke posisi US$63,21 per barel pada penutupan perdagangan.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi pengiriman kekuatan militer tersebut melalui pernyataan resmi di platform media sosial pribadinya. Penempatan armada ini disebut memiliki tujuan yang sangat spesifik terkait situasi keamanan di kawasan tersebut.
"Sebuah armada besar sedang menuju Iran. Armada itu bergerak cepat, dengan kekuatan besar, antusiasme, dan tujuan yang jelas," tulis Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pergerakan militer ini dikonfirmasi lebih lanjut oleh Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command) yang menyatakan bahwa kelompok tempur kapal induk Abraham Lincoln telah mencapai perairan Timur Tengah. Langkah ini diklaim bertujuan untuk menjaga stabilitas dan keamanan regional di tengah tensi yang memanas.
Trump membandingkan kekuatan armada yang dikerahkan kali ini dengan operasi militer masa lalu di Karibia. Ia menegaskan bahwa kesiapan tempur pasukan kali ini sangat tinggi jika keadaan mendesak dilakukannya intervensi fisik.
"Seperti halnya Venezuela, armada itu siap, bersedia, dan mampu menjalankan misinya dengan cepat dan penuh kekerasan, jika diperlukan," beber Trump, Presiden Amerika Serikat.
Di samping pengerahan kekuatan militer, Gedung Putih terus mendesak Teheran agar segera kembali ke meja perundingan. Trump memberikan peringatan keras bahwa peluang untuk mencapai kesepakatan baru mengenai program nuklir Iran kini berada di batas waktu yang sangat sempit.
"Waktu hampir habis, ini benar-benar krusial! Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya kepada Iran, Buatlah kesepakatan!" kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Peringatan tersebut diakhiri dengan pengingat mengenai serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Republik Islam itu pada Juni tahun lalu. Presiden menekankan bahwa skala kehancuran dari potensi serangan berikutnya akan jauh lebih masif jika Iran tetap tidak kooperatif.
"Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan biarkan itu terjadi lagi," ancam Trump, Presiden Amerika Serikat.