Harga Minyak Dunia Melemah Akibat Ketegangan Diplomatik Amerika Serikat-Iran

Harga Minyak Dunia Melemah Akibat Ketegangan Diplomatik Amerika Serikat-Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Melemah Akibat Ketegangan Diplomatik Amerika Serikat-Iran.

Nilai tukar minyak mentah global mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (5/5/2026) di tengah pengamatan intensif pelaku pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah. Pelemahan ini dipicu oleh memanasnya kembali hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam keamanan jalur pelayaran komersial.

Data dari Tradingview menunjukkan harga minyak Brent untuk kontrak Juli merosot 0,86 persen ke angka US$113,46 per barel, dilansir dari Ekonomi. Di sisi lain, harga West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 1,77 persen menjadi US$104,54 per barel, membalikkan tren penguatan signifikan yang terjadi pada hari sebelumnya.

Situasi geopolitik di Selat Hormuz dilaporkan semakin tidak stabil setelah adanya serangan drone terhadap Uni Emirat Arab serta aksi militer Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras melalui media mengenai konsekuensi yang akan diterima Iran jika mengganggu jalur pasokan minyak internasional.

Dalam pernyataan yang disiarkan Fox News, Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan tinggal diam terhadap ancaman di jalur pelayaran komersial. Ia memperingatkan bahwa Iran akan dihancurkan dari muka bumi apabila menyerang kapal-kapal AS yang bertugas menjaga kawasan strategis tersebut.

Melalui platform media sosial Truth Social, Trump juga mengungkapkan adanya insiden serangan terhadap kapal kargo milik Korea Selatan di wilayah perairan yang sama. Ia menyatakan pertimbangan mengenai perlunya keterlibatan Korea Selatan dalam konflik bersenjata tersebut untuk melindungi aset mereka.

Kekhawatiran mengenai ketersediaan energi global turut diperkuat oleh analisis dari institusi keuangan internasional terkait kondisi stok saat ini. Goldman Sachs mencatat bahwa meskipun persediaan belum mencapai titik kritis, distribusi produk olahan minyak mulai menunjukkan ketidakseimbangan di berbagai wilayah.

Analis dari Goldman Sachs menyampaikan dalam catatannya bahwa estimasi pasokan produk domestik memberikan sinyal bahaya bagi beberapa negara tertentu. "Estimasi kami terhadap pasokan produk olahan dan stok minyak domestik menunjukkan risiko kelangkaan yang lebih tinggi di Afrika Selatan, India, Thailand, dan Taiwan," tulis analis Goldman Sachs.

CEO Chevron Mike Wirth ikut menyuarakan pandangan serupa mengenai tantangan distribusi bahan bakar di tingkat global. Ia menekankan bahwa penutupan jalur laut utama seperti Selat Hormuz akan memberikan dampak sistemik yang melampaui sekadar fluktuasi harga pasar.

ÔÇ£Ketika pasokan sangat ketat, ini bukan hanya soal harga. Pertanyaan adalah apakah kita bisa mendapatkan bahan bakarnya? Dalam beberapa pekan ke depan, dampaknya akan mulai terasa di seluruh sistem," ujar Wirth dalam forum Milken Institute Global Conference.

Goldman Sachs memproyeksikan stok minyak global yang saat ini berada pada level 101 hari permintaan akan menyusut menjadi 98 hari pada akhir Mei 2026. Penurunan ini mencakup cadangan minyak mentah dan produk olahan, terutama pada komoditas nafta, LPG, dan bahan bakar jet yang stoknya menipis dengan cepat.

Artikel terkait

Rekomendasi