Harga minyak mentah global mengalami penurunan pada Senin (4/5/2026) seiring respon pasar terhadap rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan operasi militer untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz yang saat ini diblokade oleh Iran.
Berdasarkan data CNBC International yang dilansir dari Ekonomi, harga minyak jenis Brent turun 0,35 persen ke posisi US$107,77 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi sebesar 0,57 persen menjadi US$101,31 per barel.
Penurunan harga ini terjadi di tengah terhentinya arus lalu lintas energi di Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis bagi seperlima pasokan energi dunia. Ketegangan keamanan semakin nyata setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan adanya kapal tanker yang dihantam proyektil di utara Kota Fujairah pada Senin.
Presiden Donald Trump mengungkapkan melalui platform Truth Social pada Minggu (3/5/2026) bahwa Amerika Serikat akan mengambil tindakan untuk membebaskan kapal kargo yang terdampar. Program yang diberi nama Project Freedom tersebut dijadwalkan memulai proses evakuasi terhadap kapal sipil berbendera netral pada Senin.
Dukungan militer masif dikerahkan oleh Komando Pusat AS (US Central Command) untuk mengawal operasi tersebut. Pengerahan kekuatan mencakup kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat tempur, wahana nirawak, serta melibatkan 15.000 personel militer.
Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan internal OPEC+ yang baru saja menyetujui penambahan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari. Langkah ini menjadi keputusan perdana kelompok tersebut pasca-keluarnya Uni Emirat Arab dari keanggotaan inti kartel minyak tersebut.
Analisis mengenai dampak ekonomi global disampaikan oleh Kepala Ekonomi Internasional MoodyÔÇÖs Analytics, Gaurav Ganguly, yang menyoroti risiko resesi jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut. Ganguly memberikan penegasan mengenai ambang batas harga yang dapat mengganggu stabilitas finansial dunia.
"Kami memperkirakan harga Brent di kisaran US$125 per barel dalam periode yang berkelanjutan dapat menyeret ekonomi dunia ke dalam resesi," ujar Gaurav Ganguly, Kepala Ekonomi Internasional MoodyÔÇÖs Analytics.
Gaurav menekankan bahwa kondisi ekonomi saat ini sangat rentan terhadap faktor eksternal tambahan. Menurutnya, tidak dibutuhkan banyak pemicu baru untuk mendorong sistem ekonomi global jatuh ke dalam kondisi krisis yang lebih dalam.