Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026) setelah pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance memunculkan harapan baru atas kemajuan negosiasi antara AS dan Iran. Penurunan ini terjadi di tengah pasar yang masih dibayangi risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, sebagaimana dilansir dari Investasi.
Merespons perkembangan tersebut, harga minyak Brent kontrak Juli ditutup turun 82 sen atau 0,73 persen ke level US$ 111,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Juni yang berakhir Selasa turun 89 sen atau 0,82 persen menjadi US$ 107,77 per barel, sedangkan kontrak WTI Juli yang lebih aktif diperdagangkan melemah 23 sen ke US$ 104,15 per barel.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai banyak kemajuan dalam pembicaraan yang berlangsung belakangan ini demi menghindari konflik militer.
"Kami pikir kami telah membuat banyak kemajuan. Kami pikir Iran ingin mencapai kesepakatan," ujar Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Sinyal meredanya tensi geopolitik ini diperkuat oleh Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan berlangsung Selasa, walaupun opsi serangan tetap terbuka jika kesepakatan gagal dicapai. Di tengah upaya diplomasi, media pemerintah Iran melaporkan Teheran telah mengajukan proposal perdamaian baru mencakup penghentian permusuhan di seluruh kawasan, penarikan pasukan AS, serta kompensasi kerusakan perang.
Namun, Washington tetap memperketat tekanan ekonomi dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap perusahaan penukaran valuta asing Iran serta memblokir 19 kapal pengirim minyak Iran. Konflik ini juga menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, yang disebut Badan Energi Internasional (IEA) sebagai gangguan pasokan terbesar di dunia.
Analis Again Capital John Kilduff menilai pelaku pasar saat ini berada dalam situasi yang sangat sensitif karena menanti kepastian dari hasil diplomasi tersebut.
"Kami hanya bisa menahan napas sampai ada kesepakatan atau justru serangan kembali terjadi," kata John Kilduff, Analis Again Capital.
Ketidakpastian pasokan akibat perang Iran juga memukul aktivitas kilang minyak milik negara di China yang memangkas kapasitas pengolahan lebih dari 1 juta barel per hari sejak konflik pecah. Konsultan Energy Aspects mencatat kilang China mengolah sekitar 8,4 juta barel minyak per hari pada Mei, turun dibandingkan 9,5 juta barel per hari pada Maret sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran terjadi pada akhir Februari.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperpanjang izin pengecualian sanksi selama 30 hari agar negara-negara yang rentan energi tetap dapat membeli minyak Rusia melalui jalur laut. Sementara itu, kilang minyak Ryazan di Rusia yang menyumbang hampir 5 persen kapasitas pengolahan nasional dilaporkan berhenti beroperasi akibat serangan drone Ukraina pekan lalu.
Di Amerika Serikat, cadangan minyak strategis menyusut 9,9 juta barel pekan lalu sehingga stok tersisa sekitar 374 juta barel, level terendah sejak Juli 2024 berdasarkan data Departemen Energi AS. Pasar kini menanti data resmi persediaan minyak mingguan AS yang diperkirakan oleh analis akan menunjukkan penurunan stok minyak mentah sekitar 3,4 juta barel pada pekan yang berakhir 15 Mei.