Harga Minyak Dunia Ditutup Naik Dipicu Keraguan Damai AS dan Iran

Harga Minyak Dunia Ditutup Naik Dipicu Keraguan Damai AS dan Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Ditutup Naik Dipicu Keraguan Damai AS dan Iran.

Harga minyak dunia mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026). Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran para investor mengenai kepastian kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Belum adanya kesepakatan tersebut dinilai dapat menghambat pemulihan jalur pengiriman energi di Selat Hormuz.

Seperti dilansir dari Investor Daily yang mengutip Reuters, harga minyak Brent melesat 96 sen atau 0,94 persen ke level US$ 103,54 per barel. Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 25 sen atau 0,26 persen menuju US$ 96,60 per barel.

Pada awal sesi, kedua kontrak minyak tersebut bahkan sempat meroket hingga lebih dari 3 persen sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatan. Meskipun ditutup menguat di akhir pekan, secara akumulatif mingguan harga Brent merosot 5,48 persen dan WTI melemah 8,37 persen.

Fluktuasi harga yang tajam ini terjadi karena ekspektasi pasar yang terus berubah terhadap hasil negosiasi Washington dan Teheran. Analis senior Price Futures Group Phil Flynn menilai pergerakan pasar saat ini sangat responsif terhadap isu geopolitik kedua negara.

"Kita terus dibanjiri berita yang berubah-ubah sehingga sulit diikuti. Kini muncul kabar Iran bersedia menyerahkan uranium demi pencabutan sanksi, tetapi situasinya terus berubah," ujar Flynn.

Proses negosiasi mulai menunjukkan pergerakan dengan adanya aktivitas diplomatik dari negara tetangga. Informasi dari sumber diplomatik di Islamabad menyebutkan bahwa kepala militer Pakistan telah bertolak menuju Iran, menyusul laporan menyempitnya jarak perbedaan pandangan antara Teheran dan Washington.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi adanya perkembangan positif dalam perundingan tersebut, meskipun prosesnya masih panjang.

"Kami belum sampai pada titik akhir, tetapi ada perkembangan," kata Rubio usai pertemuan menteri NATO di Swedia.

Kendati demikian, kedua belah pihak masih menghadapi jalan buntu terkait kepemilikan stok uranium Iran dan kendali atas Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur logistik vital yang mengontrol sekitar 20 persen pasokan energi global sebelum konflik pecah.

Dampak Geopolitik terhadap Prospek Ekonomi Global

Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Mitra Again Capital John Kilduff menyebutkan bahwa walaupun peluang penyelesaian mulai terlihat, arah dari negosiasi tersebut masih sangat minim kejelasan.

Untuk membantu mediasi, tim negosiator dari Qatar dilaporkan telah tiba di Teheran dengan koordinasi dari pihak AS. Kondisi gencatan senjata yang rapuh selama enam pekan terakhir antara AS-Israel melawan Iran kini mulai memicu kekhawatiran baru terkait inflasi global.

Kondisi ini mendorong BMI, unit riset Fitch Solutions, untuk mengoreksi proyeksi rata-rata harga Brent tahun 2026. Lembaga tersebut menaikkan estimasi harga menjadi US$ 90 per barel dari proyeksi sebelumnya yang sebesar US$ 81,50 per barel.

Revisi ini mencerminkan ancaman defisit pasokan global serta kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk. Selain itu, proses pemulihan pascakonflik diperkirakan memerlukan waktu sekitar enam hingga delapan pekan.

Konflik berkepanjangan ini telah memangkas pasokan minyak mentah dunia hingga 14 juta barel per hari, termasuk menghentikan ekspor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait. Kepala perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab, ADNOC, memproyeksikan arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz baru bisa pulih sepenuhnya pada kuartal I atau II tahun 2027.

Di tengah hambatan distribusi ini, tujuh negara utama produsen minyak OPEC+ diperkirakan akan mengambil langkah antisipasi. Mereka diprediksi bakal menyepakati kenaikan produksi secara moderat untuk bulan Juli dalam pertemuan yang dijadwalkan pada 7 Juni mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi