Harga minyak mentah dunia mengalami penguatan signifikan pada perdagangan Jumat (15/5/2026) akibat ketidakpastian penyelesaian konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Dilansir dari Money, kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas distribusi energi global melalui jalur pelayaran strategis.
Data Bloomberg menunjukkan harga minyak Brent kini mendekati angka 107 dollar AS per barrel dengan kenaikan mingguan mencapai 5 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat diperdagangkan pada kisaran 102 dollar AS per barrel di tengah gangguan arus distribusi di Selat Hormuz.
Akses pelayaran di pintu masuk utama perdagangan minyak tersebut terhambat oleh blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Risiko bagi kapal komersial semakin meningkat setelah adanya laporan penyitaan sebuah kapal dagang oleh pihak tidak dikenal di wilayah perairan Iran baru-baru ini.
Di tengah eskalasi ini, Presiden AS Donald Trump melakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pada Kamis (14/5/2026). Gedung Putih melaporkan bahwa kedua pemimpin negara tersebut mendiskusikan upaya penjagaan Selat Hormuz demi mendukung kelancaran aliran minyak internasional.
Sebaliknya, pemerintah China tidak memberikan pernyataan spesifik mengenai topik energi dalam rilis resminya, meski membenarkan adanya pembahasan mengenai konflik Timur Tengah. Trump kemudian memberikan pernyataan lanjutan terkait posisinya terhadap Teheran melalui media sosial.
"pelemahan militer Iran akan terus berlanjut" tulis Donald Trump, Presiden AS.
Pernyataan tersebut disampaikan sembari menyatakan harapan agar hubungan diplomasi antara Amerika Serikat dan China dapat membaik di masa depan. Namun, dampak dari ketegangan yang berkepanjangan ini mulai terlihat pada cadangan energi global yang terus menipis.
Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan pasar minyak dunia akan mengalami kekurangan pasokan yang serius setidaknya hingga Oktober 2026. Tekanan harga ini juga tercermin dalam data inflasi AS terbaru yang diprediksi akan memengaruhi konstelasi politik domestik menjelang pemilu sela mendatang.
Analis pasar dari BOK Financial Securities Inc, Dennis Kissler, memprediksi bahwa tren kenaikan harga ini masih akan bertahan dalam jangka waktu dekat. Hal ini didasarkan pada analisis terhadap stok bahan bakar yang tersedia saat ini.
"I pikir arah harga dalam waktu dekat masih cenderung bullish karena persediaan minyak mentah dan bahan bakar terus menyusut" ujar Dennis Kissler, Senior Vice President Trading BOK Financial Securities Inc.
Kissler menilai peluang terjadinya eskalasi konflik masih terbuka lebar mengingat belum adanya kesepakatan antara Washington dan Teheran. Kondisi ini diperparah dengan pernyataan Trump sebelumnya yang menyebut kesepakatan damai saat ini dalam status yang sangat rapuh.
"massive life support" kata Donald Trump, Presiden AS.
Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, arus kapal tanker dari Teluk Persia masih sangat terbatas bagi negara-negara konsumen. Meskipun demikian, perusahaan Vitol Group dilaporkan mulai menawarkan kargo minyak mentah dari Irak kepada pasar internasional.
Berdasarkan laporan Energy Information Administration (EIA), volume pengiriman energi melalui Selat Hormuz telah menyusut drastis. Penurunan arus pengiriman minyak mentah dan bahan bakar tercatat mencapai hampir 6 juta barel per hari sepanjang kuartal pertama sejak dimulainya konflik.