Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Jumat (29/5/2026), seiring meningkatnya harapan investor akan berakhirnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Penurunan ini menempatkan komoditas energi tersebut pada jalur penurunan bulanan terbesar dalam sejarah.
Berdasarkan data pasar yang dikutip dari Media Indonesia, harga minyak mentah Brent yang menjadi tolok ukur global turun 1,3% ke level US$91,54 per barel. Secara akumulatif, harga Brent merosot hampir 17% sejak awal Mei.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pasar Amerika Utara turun 1,4% menjadi US$87,64 per barel. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 7% dari level tertinggi pekan ini yang sempat menyentuh angka US$94,70.
Optimisme pasar dipicu oleh langkah Donald Trump yang mengedarkan draf perjanjian damai untuk perang di Iran kepada para sekutu. Laporan dari situs berita Axios menyebutkan bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan tentatif untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
Meski demikian, laporan tersebut menambahkan bahwa Trump belum sepenuhnya menyetujui persyaratan akhir. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa kesepakatan memang belum tercapai sepenuhnya, tetapi posisinya sudah sangat dekat.
Konflik yang telah berlangsung selama 90 hari ini memicu kekacauan ekonomi global, terutama setelah Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz. Penutupan jalur pelayaran vital tersebut sempat menghentikan sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk, salah satu wilayah penghasil minyak utama dunia.
Respons Positif Pasar Saham Global
Penurunan harga energi itu memberikan napas lega bagi ekonomi dunia yang sebelumnya dibayangi ancaman stagflasi. Henry Allen dari Deutsche Bank mencatat bahwa investor mulai mengesampingkan skenario terburuk bagi ekonomi global.
Kondisi ini memicu reli kuat di pasar saham Asia, di mana indeks Nikkei 225 di Jepang melonjak 2,5%. Penguatan juga terjadi pada indeks Kospi di Korea Selatan yang menguat 3,6%, sementara Hang Seng di Hong Kong naik 0,9%.Di Eropa, indeks FTSE 100 Inggris dibuka menguat 0,1%, sedangkan indeks Stoxx Europe 600 naik 0,3%. Tren positif ini mengikuti penguatan indeks S&P 500 di bursa Amerika Serikat yang kembali mencetak rekor tertinggi baru.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor 10-tahun turun ke level 4,45%. Penurunan yield ini mencerminkan ekspektasi investor terhadap inflasi yang lebih rendah di masa depan seiring meredanya harga komoditas energi di pasar internasional.
Fokus utama AS saat ini dilaporkan bergeser dari upaya perubahan rezim menjadi pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencapaian kesepakatan untuk mencegah pengembangan senjata nuklir Iran.