Harga Minyak Dunia Merosot Akibat Sinyal Damai Konflik Timur Tengah

Harga Minyak Dunia Merosot Akibat Sinyal Damai Konflik Timur Tengah
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Merosot Akibat Sinyal Damai Konflik Timur Tengah.

Pasar komoditas global mencatat penurunan tajam harga minyak dunia pada Senin (25/5/2026) seiring munculnya harapan kesepakatan diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Penurunan harga ini terjadi bersamaan dengan penguatan pasar saham di kawasan Asia, seperti dilansir dari Media Indonesia.

Berdasarkan data perdagangan di Asia, minyak mentah patokan global Brent merosot signifikan sebesar 5,5 persen ke posisi 97,90 dolar AS per barel. Pada saat yang sama, minyak mentah berjangka AS atau West Texas Intermediate (WTI) jatuh 5,9 persen menjadi 90,93 dolar AS per barel.

Sinyal positif perdamaian ini dikonfirmasi oleh Presiden AS Donald Trump yang menyatakan kesepakatan akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur perairan vital tersebut telah ditutup sejak konflik pecah pada 28 Februari dan mengganggu seperlima pasokan minyak serta gas alam cair dunia. Pemulihan ini memicu lonjakan Indeks Nikkei 225 di Jepang hingga melampaui level 65.000 untuk pertama kalinya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan keterangan mengenai perkembangan negosiasi saat mengunjungi India. Rubio menjelaskan bahwa rancangan kesepakatan yang solid sudah tersedia dan siap difinalisasi.

"Kita masih dalam proses. Seperti yang saya katakan, kami mengira mungkin akan mendapat kabar tadi malam. Mungkin hari ini," ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menginstruksikan tim negosiator untuk tetap cermat dalam menyusun poin-poin perjanjian. Melalui media sosial pada Sabtu (23/5), Trump mengaku telah berdiskusi intensif dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar terkait Nota Kesepahaman damai ini.

"Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, tunduk pada finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain yang terdaftar," kata Donald Trump, Presiden AS.

Pemerintah Iran juga memberikan respons melalui saluran televisi negara terkait perkembangan perundingan tersebut. Perwakilan Teheran mengonfirmasi adanya kemajuan, meski masih ada beberapa catatan yang perlu diselesaikan.

"Kita masih dalam proses. Seperti yang saya katakan, kami mengira mungkin akan mendapat kabar tadi malam. Mungkin hari ini," ujar Esmaeil Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Di sisi lain, analis energi mengingatkan bahwa pemulihan penuh sektor energi global masih memerlukan proses yang panjang. Konflik yang terjadi sebelumnya telah menguras stok minyak global hingga mencapai rekor terendah.

"Dibutuhkan waktu untuk menormalisasi aliran minyak melalui Selat Hormuz, memperbaiki fasilitas yang rusak, dan membangun kembali stok minyak global yang telah mengalami penurunan rekor sejak perang dimulai," pungkas Saul Kavonic, Kepala Riset Energi di MST Financial.

Artikel terkait

Rekomendasi