Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Diplomatik AS dan Iran

Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Diplomatik AS dan Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Diplomatik AS dan Iran.

Nilai tukar minyak mentah global mengalami kenaikan signifikan hampir 3 persen pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026) waktu Amerika Serikat. Lonjakan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut upaya gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi kritis.

Kekhawatiran pasar meningkat atas keberlanjutan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memperlama penutupan sebagian Selat Hormuz. Kondisi ini membalikkan sentimen pasar yang pada pekan sebelumnya sempat mencatatkan penurunan harga minyak mingguan sebesar 6 persen.

Berdasarkan data yang dilansir dari Money melalui Reuters, harga minyak mentah Brent menguat 2,92 dollar AS atau 2,88 persen ke level 104,21 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,65 dollar AS atau 2,78 persen menjadi 98,07 dollar AS per barrel.

Ketegangan kembali memuncak setelah Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian Amerika Serikat. Iran sebelumnya mengajukan syarat kompensasi kerusakan perang, penghapusan sanksi, hingga penghentian blokade laut demi membuka kembali jalur ekspor minyak mereka.

Pakar energi melihat adanya pergeseran sentimen pasar yang sangat cepat dari harapan deeskalasi menuju potensi eskalasi baru.

"Narasinya berubah lagi dari deeskalasi menjadi eskalasi hanya dalam beberapa hari dan pasar minyak merespons hal itu, meskipun masih relatif moderat," ujar Florence Schmit, Strategis Energi Rabobank.

Meski situasi memanas, perhatian pasar juga tertuju pada jadwal kunjungan Trump ke Beijing pada Rabu (13/5/2026). Pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping diharapkan menjadi ruang diskusi terkait situasi di Iran dan isu global lainnya.

"Saya rasa tidak ada yang memperkirakan AS akan menaikkan eskalasi dalam sisa pekan ini selama pertemuan Trump dan China berlangsung," kata Bob Yawger, Direktur Energy Futures Mizuho.

Dampak fisik dari konflik ini telah menyebabkan hilangnya pasokan energi dalam jumlah besar di pasar global selama dua bulan terakhir. Hal ini diperparah dengan penurunan produksi minyak dari negara-negara anggota OPEC.

"Pasar energi pun butuh waktu lama untuk kembali stabil meskipun distribusi minyak kembali dibuka," ungkap Amin Nasser, CEO Saudi Aramco.

Dia menambahkan bahwa dunia setidaknya telah kehilangan sekitar 1 miliar barrel minyak akibat gangguan distribusi selama masa peperangan tersebut.

Data Kpler menunjukkan beberapa kapal tanker berupaya keluar dari Selat Hormuz dengan mematikan sensor pelacak untuk menghindari risiko keamanan. Di sisi lain, Jepang melaporkan pengiriman minyak perdana dari Azerbaijan dijadwalkan tiba pada Selasa (12/5/2026).

Meskipun ada aktivitas pengiriman, survei Reuters mencatat produksi 12 anggota OPEC pada April turun 830.000 barrel per hari menjadi 20,04 juta barrel per hari. Penurunan ini merupakan level terendah dalam lebih dari dua dekade akibat hambatan di Selat Hormuz.

Analis JPMorgan memprediksi harga minyak akan tetap stabil di kisaran 100 dollar AS per barrel hingga akhir tahun ini. Normalisasi pasokan diperkirakan berjalan lambat meski jalur perdagangan utama nantinya dibuka kembali sepenuhnya.

Artikel terkait

Rekomendasi