Harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 3 persen pada perdagangan Kamis (21/5/2026) setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memerintahkan agar stok uranium dengan tingkat pengayaan mendekati senjata tidak dikirim ke luar negeri.
Kebijakan tersebut dilansir dari Internasional memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Minyak mentah Brent naik US$ 3,07 atau 2,9 persen ke level US$ 108,09 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$ 3,52 atau 3,6 persen menjadi US$ 101,78 per barel.
Kenaikan harga ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat setelah Teheran mengumumkan pembentukan Persian Gulf Strait Authority sehari sebelumnya. Lembaga baru tersebut ditugaskan untuk mengawasi zona maritim terkendali di kawasan Selat Hormuz.
Situasi perundingan damai semakin rumit setelah adanya rencana penerapan kebijakan baru di jalur pelayaran vital tersebut. Kondisi ini membuat proses diplomasi antara pihak-pihak terkait berjalan sangat dinamis.
"Persian Gulf Strait Authority" kata Iran, merujuk pada badan baru yang akan mengawasi "zona maritim terkendali" di Selat Hormuz.
Ketegangan ini mempersempit ruang bagi pencapaian kesepakatan diplomatik dalam waktu dekat. Perwakilan dari negara tetangga kini berupaya memfasilitasi komunikasi antarpihak guna meredakan situasi.
"jawaban yang tepat" ujar Donald Trump, Presiden AS.
Meskipun bersedia menunggu tanggapan resmi dari Teheran, pihak Washington tetap membuka opsi tindakan lain jika proses negosiasi tidak membuahkan hasil. Sementara itu, aktivitas ekonomi di beberapa kawasan lain mulai terdampak oleh tingginya biaya hidup.
"zona merah" kata Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA).
Kondisi pasar diperkirakan akan tetap menghadapi tekanan pasokan dalam beberapa bulan ke depan. Estimasi pemulihan jalur distribusi utama di Timur Tengah juga diproyeksikan memakan waktu yang cukup lama.
Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz terpantau masih mengalami pembatasan ketat sebagai dampak dari rentetan konflik yang terjadi sejak awal tahun. Hal tersebut memaksa sejumlah negara produsen dan konsumen untuk menyesuaikan strategi cadangan energi mereka.