Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan di Selat Hormuz

Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan di Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan di Selat Hormuz.

Harga minyak mentah dunia mengalami penguatan signifikan pada Senin (4/5/2026) pagi menyusul eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan rencana Amerika Serikat untuk melakukan intervensi militer guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Kenaikan harga dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global setelah jalur strategis tersebut nyaris lumpuh total akibat konflik yang melibatkan Iran. Dilansir dari Money melalui CNBC, harga minyak Brent kontrak Juli melesat 3,61 persen ke level 112,08 dollar AS per barrel pada pukul 07.05 ET.

Tren serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni yang menguat 3,54 persen menjadi 105,55 dollar AS per barrel. Penutupan akses Selat Hormuz menjadi krusial karena wilayah ini merupakan jalur bagi sekitar seperlima pasokan energi dunia.

Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social menyatakan niat pemerintahannya untuk membebaskan kapal-kapal kargo yang tertahan di kawasan tersebut. Trump memperkenalkan inisiatif bernama Proyek Freedom guna memastikan keamanan pelayaran bagi kapal sipil dari negara-negara non-konflik.

"Dukungan militer AS untuk Proyek Freedom akan mencakup kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform tak berawak multi-domain, dan 15.000 anggota layanan," kata Komando Pusat AS.

Pernyataan tersebut dikeluarkan tak lama setelah pengumuman resmi dari presiden untuk merespons meningkatnya risiko keamanan. United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan adanya serangan proyektil terhadap sebuah kapal tanker di utara Fujairah, Uni Emirat Arab, yang memperparah situasi di lapangan.

Di tengah volatilitas harga ini, aliansi OPEC+ telah menyepakati peningkatan produksi minyak sebesar 188.000 barrel per hari. Keputusan ini menjadi momentum penting karena merupakan pertemuan perdana pasca keluarnya Uni Emirat Arab dari organisasi tersebut.

Kepala ekonomi internasional MoodyÔÇÖs Analytics, Gaurav Ganguly, memberikan peringatan keras mengenai dampak kenaikan harga energi terhadap stabilitas keuangan internasional. Penegasan ini didasari pada potensi gangguan pertumbuhan ekonomi yang bisa berujung pada kontraksi global.

ÔÇ£Tidak perlu banyak hal dari titik ini agar ekonomi global terperosok ke dalam resesi. Kami memperkirakan harga sekitar 125 dollar AS per barrel untuk Brent dalam jangka waktu yang lama akan mendorong ekonomi global ke dalam semacam resesi,ÔÇØ ujar Gaurav Ganguly.

Analisis tersebut menyoroti bahwa ambang batas harga di level 125 dollar AS merupakan titik kritis bagi keberlangsungan ekonomi. Saat ini, pelaku pasar terus memantau perkembangan operasi militer AS dan dampaknya terhadap kelancaran arus logistik minyak mentah di kawasan Teluk.

Artikel terkait

Rekomendasi