Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Geopolitik AS-Iran

Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Geopolitik AS-Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Geopolitik AS-Iran.

Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali terjadi akibat pasar meragukan peluang tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Kegagalan perundingan ini memicu kekhawatiran atas gangguan pasokan energi global di kawasan Selat Hormuz.

Aktivitas perdagangan komoditas yang dilansir dari Suara mencatat harga minyak mentah Brent naik sebesar US$2,38 atau 2,3 persen menjadi US$104,96 per barel. Sementara itu, patokan minyak mentah West Texas Intermediate AS ikut menguat US$1,73 atau 1,8 persen ke level US$98,08 per barel berdasarkan laporan Reuters.

Pergerakan positif ini membalikkan arah pasar setelah sehari sebelumnya kedua kontrak acuan sempat jatuh sekitar 2 persen hingga menyentuh level penutupan terendah dalam dua pekan terakhir. Ketegangan dipicu oleh isu cadangan uranium Teheran serta kendali atas Selat Hormuz yang membuat investor memburu aset energi.

Pihak internal Iran menyatakan belum ada kesepakatan resmi dengan Washington meski jarak perbedaan pandangan mulai menyempit. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengklaim adanya sinyal positif dalam dialog tersebut, namun menegaskan bahwa pihak Washington menolak sistem pungutan atau tarif apa pun di Selat Hormuz.

Analis komoditas dari Rakuten Securities memberikan pandangan mengenai ketidakpastian perundingan damai ini yang mendorong kenaikan harga energi akibat risiko stabilitas di Timur Tengah.

"Dengan prospek perundingan damai yang masih belum pasti, harga minyak merangkak naik karena pasar memperkirakan ketidakstabilan di Timur Tengah serta gangguan pasokan di Selat Hormuz masih akan berlanjut," ujar analis komoditas Rakuten Securities, Satoru Yoshida.

Pergerakan nilai komoditas minyak mentah WTI diproyeksikan masih akan mengalami fluktuasi yang cukup tinggi untuk pekan depan.

"Sinyal positif" kata Satoru Yoshida, analis komoditas Rakuten Securities.

Kondisi pasar saat ini juga dipengaruhi oleh evaluasi pelaku pasar terhadap gencatan senjata enam minggu yang dinilai rapuh karena belum ada langkah konkret untuk menghentikan konflik secara permanen. Dampak situasi ini memicu kekhawatiran inflasi global serta perlambatan ekonomi dunia.

Konflik berkepanjangan telah memangkas sekitar 14 juta barel minyak per hari dari pasar dunia atau setara 14 persen pasokan global, yang ikut mengganggu ekspor dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Sebelum perang pecah, sekitar 20 persen pasokan energi global melintasi Selat Hormuz.

Tujuh negara produsen utama yang tergabung dalam OPEC+ kini dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi kenaikan produksi terbatas untuk bulan Juli mendatang. Rencana kebijakan pemulihan pasokan tersebut dijadwalkan bakal dibahas lebih lanjut dalam pertemuan resmi pada 7 Juni.

Artikel terkait

Rekomendasi