Harga minyak dunia berbalik arah dan mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan hari Selasa. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, mengenai adanya kemajuan signifikan dalam pembicaraan antara pihak AS dan Iran.
Sentimen positif tersebut, seperti dikutip dari Reuters yang dilansir oleh Investor Daily, memberikan harapan baru bagi pasar energi global mengenai potensi meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dalam pergerakan pasar, komoditas minyak Brent untuk kontrak Juli mencatatkan penurunan sebesar 82 sen atau 0,73 persen, sehingga menetap di level US$ 111,28 per barel.
Sementara itu, varian West Texas Intermediate atau WTI untuk kontrak Juni mengalami pelelehan sebesar 89 sen atau 0,82 persen ke posisi US$ 107,77 per barel. Untuk kontrak WTI bulan Juli juga terpantau turun 23 sen menjadi US$ 104,15 per barel.
"Kami melihat banyak kemajuan. Iran juga tampaknya ingin mencapai kesepakatan," ujar Vance dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Sebelum momentum penurunan ini terjadi, Presiden AS Donald Trump telah memutuskan untuk menunda rencana aksi militer ke Iran yang sedianya dijadwalkan pada hari Selasa waktu setempat. Kendati demikian, pihak Washington menegaskan tetap bersiap mengambil opsi serangan jika proses negosiasi berujung pada kegagalan.
Meskipun sedang mengalami koreksi, posisi harga komoditas energi ini dinilai masih berada di level yang cukup tinggi. Pada sesi perdagangan hari Senin, Brent sempat meroket ke titik tertinggi sejak tanggal 5 Mei, sedangkan WTI menyentuh rekor tertingginya sejak 30 April.
Partner dari Again Capital, John Kilduff, memberikan pandangan bahwa situasi pasar saat ini masih diselimuti oleh ketidakpastian yang sangat besar karena faktor risiko bentrokan fisik belum sepenuhnya hilang dari kawasan tersebut.
"Kita masih kehilangan pasokan minyak dalam jumlah besar dan infrastruktur energi kawasan menjadi sasaran konflik. Pasar kini menunggu dua kemungkinan besar, yakni kesepakatan damai atau serangan militer lanjutan," ujarnya.
Ketegangan di wilayah Timur Tengah ini diketahui telah mengganggu kelancaran arus pelayaran di Selat Hormuz. Selat strategis ini memegang peranan krusial sebagai jalur distribusi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak serta gas alam cair atau LNG di tingkat global. Badan Energi Internasional atau IEA bahkan mengkategorikan situasi ini sebagai gangguan pasokan minyak paling masif di dunia untuk saat ini.
Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, pihak Teheran telah mengajukan draf proposal perdamaian terbaru kepada AS. Poin-poin di dalamnya mencakup penghentian ketegangan di seluruh kawasan, penarikan militer AS dari wilayah sekitar Iran, hingga tuntutan kompensasi atas kerugian akibat konflik.
Namun di sisi lain, AS justru kembali memperketat tekanan ekonomi dengan merilis sanksi baru yang menyasar jaringan finansial Iran. Sanksi ini turut memblokir operasi 19 kapal yang dituduh memfasilitasi pengiriman komoditas minyak dan produk petrokimia asal Iran ke pasar internasional.
Faktor penekan harga juga datang dari kawasan Asia, di mana perusahaan kilang minyak milik negara China dilaporkan memotong volume produksi mereka hingga lebih dari 1 juta barel per hari semenjak konflik Iran pecah. Pemotongan ini dipicu oleh kendala pasokan dan penurunan margin keuntungan pengolahan.
Di domestik AS, cadangan minyak strategis negara tersebut dilaporkan menyusut tajam sebesar 9,9 juta barel pada pekan lalu hingga menyisakan sekitar 374 juta barel. Angka ini menandai level cadangan paling rendah sejak bulan Juli 2024. Para pelaku pasar kini tengah mengantisipasi rilis data resmi mengenai persediaan minyak AS yang dijadwalkan keluar pada hari Rabu waktu setempat.