Harga Minyak Dunia Bergerak Fluktuatif Imbas Simpang Siur Gencatan Senjata AS-Iran

Harga Minyak Dunia Bergerak Fluktuatif Imbas Simpang Siur Gencatan Senjata AS-Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Bergerak Fluktuatif Imbas Simpang Siur Gencatan Senjata AS-Iran.

Harga minyak dunia mencatatkan penutupan yang bervariasi pada akhir perdagangan Kamis (28/5/2026) setelah mengalami fluktuasi sepanjang sesi. Pergerakan ini dipicu oleh sikap pelaku pasar yang mencermati kabar simpang siur mengenai potensi kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, seperti dilansir dari Investor Daily.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Juli yang segera berakhir ditutup melemah 58 sen atau 0,6 persen ke posisi US$ 93,71 per barel. Sebaliknya, kontrak Brent Agustus yang kini lebih aktif diperdagangkan justru menguat 72 sen menjadi US$ 92,97 per barel.

Sementara itu, komoditas minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mencatatkan penguatan tipis. Harga minyak WTI ditutup naik 22 sen atau 0,3 persen menuju level US$ 88,90 per barel.

Sinyal yang saling bertolak belakang mengenai akhir konflik Iran selama tiga bulan terakhir serta potensi pembukaan Selat Hormuz membuat harga minyak volatil. Saat ini, aktivitas pelayaran di jalur laut strategis tersebut dilaporkan masih berada jauh di bawah level sebelum terjadinya konflik.

Berdasarkan laporan Reuters dari empat sumber yang mengetahui proses negosiasi, kesepakatan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dikabarkan telah tercapai. Informasi mengenai kesepakatan ini sebelumnya telah disiarkan terlebih dahulu oleh media Axios.

Kendati demikian, realisasi kesepakatan tersebut masih harus menunggu persetujuan dari Presiden AS Donald Trump. Di sisi lain, kantor berita Tasnim milik Iran menyatakan bahwa draf nota kesepahaman (MoU) dengan pihak AS belum final dan belum mendapatkan konfirmasi resmi.

Pada awal sesi perdagangan, harga Brent dan WTI sempat mengalami lonjakan hingga lebih dari 2 persen. Kenaikan tajam ini dipicu oleh klaim Garda Revolusi Iran yang menyatakan telah menargetkan pangkalan militer AS, sebagai bentuk balasan atas serangan terhadap kota pelabuhan Bandar Abbas.

Firma penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates menyatakan, pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap dinamika konflik Iran dan peluang dibukanya kembali Selat Hormuz.

"Pasar masih cenderung menguat karena sentimen bullish dari Iran, namun bisa langsung terkoreksi tajam hanya karena sinyal kecil mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz," tulis Ritterbusch and Associates dalam laporannya.

Tekanan terhadap pergerakan harga minyak juga datang dari rilis data resmi pemerintah AS. Data tersebut memperlihatkan stok minyak mentah Negeri Paman Sam mengalami penurunan sebesar 3,3 juta barel pada pekan lalu.

Penurunan persediaan tersebut menjadi yang keenam kalinya secara berturut-turut, walaupun angka realisasinya lebih rendah daripada ekspektasi para analis yang memperkirakan penurunan sebesar 4,1 juta barel. Selain minyak mentah, persediaan bensin serta bahan bakar distilat AS juga dilaporkan menyusut.

Analis UBS Giovanni Staunovo menilai bahwa penurunan persediaan domestik AS belum menjadi fokus utama para pelaku pasar saat ini. Menurutnya, pasar minyak sekarang jauh lebih sensitif merespons berita terkait geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Artikel terkait

Rekomendasi