Harga Minyak Dunia Anjlok Dipicu Optimisme Damai Amerika Serikat Iran

Harga Minyak Dunia Anjlok Dipicu Optimisme Damai Amerika Serikat Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Anjlok Dipicu Optimisme Damai Amerika Serikat Iran.

Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan pada akhir perdagangan Rabu (6/5/2026) seiring munculnya optimisme terkait potensi meredanya ketegangan di Timur Tengah. Penurunan ini dipicu oleh laporan yang menyebut Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat untuk mencapai kesepakatan damai awal.

Data dari Reuters yang dilansir dari Money menunjukkan harga minyak mentah Brent anjlok sebesar 8,60 dollar AS atau 7,83 persen menjadi 101,27 dollar AS per barrel. Dalam sesi tersebut, Brent bahkan sempat menyentuh level di bawah 100 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak 22 April 2026.

Koreksi tajam juga terjadi pada harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang merosot 7,19 dollar AS atau 7,03 persen ke posisi 95,08 dollar AS per barrel. Mediator dari Pakistan mengabarkan bahwa kedua negara kini sedang dalam proses finalisasi memorandum saling pengertian setebal satu halaman.

Analis senior Price Futures Group Phil Flynn memberikan pandangannya mengenai dampak sentimen ini terhadap jalur distribusi energi dunia di kawasan tersebut.

"Ada keyakinan yang terus tumbuh bahwa peluang Selat Hormuz kembali dibuka semakin besar, terlepas apakah nantinya tercapai kesepakatan damai permanen dengan Iran atau tidak," ujar Phil Flynn.

Meski terdapat sentimen positif, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk membahas pertemuan langsung dengan pihak Teheran. Selain itu, seorang anggota senior parlemen Iran menilai proposal yang diajukan AS masih sekadar daftar keinginan dan belum mendekati kenyataan.

Di sisi lain, Kepala Analis Minyak Rystad Energy Paola Rodriguez-Masiu menjelaskan bagaimana pengumuman resmi nantinya akan mempengaruhi pergerakan pasar komoditas global.

"Pengumuman kesepakatan akan langsung mendorong kontrak berjangka bergerak lebih jauh. Bahkan potensi tercapainya kesepakatan saja sudah memicu penurunan harga minyak," kata Paola Rodriguez-Masiu.

Analisis lebih lanjut dari Rodriguez-Masiu menekankan bahwa pemulihan arus distribusi minyak global tidak akan terjadi secara instan meski jalur laut utama dibuka kembali.

"Namun ia menilai arus distribusi minyak global tidak akan langsung pulih normal meski Selat Hormuz kembali dibuka," kata Paola Rodriguez-Masiu.

Krisis di Selat Hormuz yang berlangsung sejak Februari telah mengganggu pasokan global hingga mendorong Brent mencapai level tertinggi sejak Maret 2022 pada pekan lalu. Analis Raymond James Pavel Molchanov memprediksi langkah awal pemulihan aktivitas di kawasan strategis tersebut.

"Kesepakatan parsial saja kemungkinan sudah cukup untuk memulihkan aktivitas pelayaran secara bertahap di Selat Hormuz," ucap Pavel Molchanov.

Kementerian Luar Negeri Iran melalui kantor berita ISNA menyatakan pihaknya sedang meninjau proposal terbaru dari Washington. Respons resmi dari Teheran dijadwalkan akan segera disampaikan melalui perantara Pakistan dalam waktu dekat.

Artikel terkait

Rekomendasi