Harga LPG 12 Kg Naik Menjadi Rp 228.000 Per Tabung

Harga LPG 12 Kg Naik Menjadi Rp 228.000 Per Tabung
Foto: Ilustrasi Harga LPG 12 Kg Naik Menjadi Rp 228.000 Per Tabung.

Warga DKI Jakarta mulai mengkhawatirkan dampak berantai kenaikan harga gas Elpiji (LPG) nonsubsidi kemasan 12 kilogram yang melonjak menjadi Rp 228.000 per tabung pada Minggu, 19 April 2026. Penyesuaian harga ini memicu ketakutan akan kenaikan biaya kebutuhan pokok lainnya di tengah lonjakan harga BBM.

Kenaikan harga tersebut mencapai Rp 36.000 per tabung dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp 192.000, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Kondisi ini membuat perencanaan keuangan rumah tangga warga ibu kota semakin tertekan akibat akumulasi kenaikan berbagai sektor energi dan pangan.

Michael, seorang warga asal Kalideres, Jakarta Barat, memberikan pandangannya mengenai beban tambahan yang harus dihadapi masyarakat saat ini. Ia merasa cemas bahwa kenaikan harga gas akan memicu efek domino pada harga komoditas lainnya.

ÔÇ£Biasanya kalau gas naik, yang lain ikut. Takutnya bukan cuma Rp 36.000 ini, tapi nanti harga makanan, ongkos, semua ikut naik,ÔÇØ kata Michael, warga Kalideres.

Michael mengaku baru menyadari adanya perubahan harga tersebut saat melakukan transaksi rutin bulanan. Ia mengaitkan fenomena ini dengan pengalaman sebelumnya saat terjadi kenaikan harga bahan bakar di pasar domestik.

ÔÇ£Kalau BBM naik, biasanya ongkos kirim naik, terus harga barang juga ikut. Sekarang gas juga naik, jadi makin khawatir ke depannya,ÔÇØ ujar Michael.

Pudji, warga yang telah setia menggunakan gas nonsubsidi selama tiga dekade, turut menyampaikan keluhannya. Baginya, situasi ekonomi sekarang terasa jauh lebih menantang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena kenaikan harga terjadi secara serentak.

ÔÇ£Sekarang tuh bukan cuma gas ya, semuanya naik. Jadi kerasa banget, pengeluaran jadi membengkak. Takutnya nanti bahan dapur juga ikut naik lagi,ÔÇØ kata Pudji.

Pudji menganggap penyesuaian tarif ini sebagai tanda adanya tekanan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat umum. Ia kini merencanakan strategi efisiensi untuk menekan pengeluaran dapur agar tetap dalam batas kemampuan finansialnya.

ÔÇ£Kalau begini ya harus dihemat-hemat. Mungkin cari alternatif lain atau kurangi pemakaian, soalnya kalau terus naik begini berat,ÔÇØ tutur Pudji.

Pemerintah menanggapi situasi pasar ini dengan menegaskan status LPG 12 kilogram sebagai produk yang tidak mendapatkan subsidi negara. Harga produk tersebut sepenuhnya mengikuti dinamika pasar energi global yang sedang bergejolak.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menekankan bahwa kebijakan subsidi energi saat ini difokuskan pada perlindungan bagi kelompok masyarakat ekonomi lemah. Ia menjamin ketersediaan harga LPG 3 kilogram tetap stabil bagi rakyat kecil.

Sementara itu, sebagian warga mulai mempertimbangkan untuk beralih menggunakan gas kemasan 5,5 kilogram atau LPG subsidi 3 kilogram guna menekan biaya. Namun, kendala ketersediaan stok dan biaya pengadaan tabung baru menjadi hambatan bagi rencana peralihan konsumsi tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi