Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali mencatatkan lonjakan signifikan pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Penguatan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut ini dipicu oleh merebaknya rumor terkait kebijakan pemerintah Indonesia.
Dilansir dari Investor Daily, pasar berspekulasi bahwa pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan langkah pembatasan ekspor untuk komoditas strategis, termasuk minyak kelapa sawit. Kabar tersebut langsung memicu kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan CPO di pasar global.
Berdasarkan data penutupan BMD pada Selasa (19/5/2026), pergerakan harga kontrak berjangka CPO mengalami kenaikan merata di seluruh lini masa kontrak. Kontrak berjangka untuk periode Juni 2026 melonjak sebesar 49 Ringgit Malaysia menjadi 4.540 Ringgit Malaysia per ton.
Kenaikan serupa terjadi pada kontrak Juli 2026 yang melesat 49 Ringgit Malaysia ke level 4.571 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak Agustus 2026 mengalami pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 51 Ringgit Malaysia mencapai 4.585 Ringgit Malaysia per ton.
Tren positif ini berlanjut pada kontrak September 2026 yang meningkat 47 Ringgit Malaysia menjadi 4.589 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 melesat 47 Ringgit Malaysia ke angka 4.596 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak November 2026 terkerek 48 Ringgit Malaysia menjadi 4.609 Ringgit Malaysia per ton.
Dampak Rumor Terhadap Pasar Global dan Domestik
Dikutip dari Tradingview, posisi Indonesia sebagai produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia membuat isu kebijakan domestik langsung mengguncang stabilitas pasar. Meski demikian, lembaga berita Reuters menyatakan belum bisa memverifikasi kebenaran informasi pembatasan ekspor tersebut.
Sentimen negatif dari rumor ini tidak hanya memengaruhi bursa komoditas, tetapi juga menekan pasar saham di dalam negeri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan dalam sepekan terakhir, dengan saham sektor pertambangan serta emiten perkebunan sawit menjadi komoditas yang paling terdampak.
Kondisi pasar ini dinilai bakal menguntungkan negara produsen lain jika spekulasi tersebut terbukti. Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur memberikan proyeksi mengenai arah perpindahan pasar jika pembatasan benar-benar diterapkan.
"Jika rumor itu benar, permintaan akan berpindah ke Malaysia dan mendukung harga," ujarnya.
Faktor Pendukung dari Pasar Minyak Nabati Global
Aktivitas penguatan harga CPO turut mendapat dorongan dari performa positif komoditas minyak nabati di pasar China. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai yang paling aktif tercatat naik 1,67%, sementara kontrak minyak sawit mengalami penguatan sebesar 1,76%.
Kondisi berbeda terjadi di Chicago Board of Trade, di mana harga minyak kedelai justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,42%. Pergerakan harga minyak sawit secara umum memang selalu beriringan dengan minyak nabati kompetitor karena keduanya saling bersaing di pasar internasional.
Melihat dinamika ini, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memprediksi harga CPO mampu bertahan di kisaran 4.400 Ringgit Malaysia per ton pada Juni 2026. Estimasi tersebut diperkuat oleh regulasi biofuel global yang menjaga permintaan tetap tinggi serta adanya faktor risiko cuaca.
Melalui analisis teknikal, harga CPO saat ini sedang menguji titik resistance pada level 4.584 Ringgit Malaysia per ton. Apabila pergerakan harga berhasil menembus batas tersebut, komoditas ini berpotensi melanjutkan reli kenaikan menuju rentang 4.634 hingga 4.669 Ringgit Malaysia per ton.