Harga emas spot dunia merosot ke level terendah baru di kisaran US$ 4.516 per troy ounce pada sesi perdagangan Jumat (22/5/2026) setelah data terbaru menunjukkan penurunan sentimen konsumen di Amerika Serikat. Penurunan nilai komoditas tersebut dipicu oleh melonjaknya survei ekspektasi inflasi jangka pendek dan jangka panjang di AS yang melampaui level tertinggi sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Kondisi pasar yang menekan daya beli masyarakat di Amerika Serikat menjadi penyebab utama kemerosotan nilai logam mulia ini. Biaya hidup yang tinggi terus menekan keuangan pribadi warga di tengah gangguan pasokan energi global.
"Sentimen konsumen turun untuk bulan ketiga berturut-turut karena gangguan pasokan di Selat Hormuz terus meningkatkan harga BBM (di AS)," kata Direktur Survei Konsumen, Joanne Hsu.
Situasi keuangan masyarakat semakin tertekan oleh lonjakan harga komoditas utama di pasar domestik. Hal tersebut berdampak langsung pada persepsi publik terhadap kondisi ekonomi saat ini.
"Sentimen sekarang berada tepat di bawah titik terendah historis sebelumnya yang terlihat pada Juni 2022. Biaya hidup terus menjadi perhatian utama, dengan 57% konsumen secara spontan menyebutkan bahwa harga tinggi mengikis keuangan pribadi mereka, naik dari 50% bulan lalu," bebernya.
Meskipun terjadi penurunan tajam pada perdagangan jangka pendek, sejumlah analis sektor komoditas internasional tetap mempertahankan proyeksi positif untuk pergerakan harga emas dalam jangka menengah. Lembaga keuangan ING memprediksi adanya potensi pemulihan nilai komoditas ini hingga mencapai level US$ 5.000 per troy ounce pada akhir tahun 2026 yang didorong oleh tingginya permintaan bank sentral serta arus masuk investasi ETF.
Selain proyeksi dari ING, lembaga perbankan Goldman Sachs turut merilis estimasi pergerakan pasar yang jauh lebih optimistis. Tim ahli komoditas Goldman Sachs memperkirakan harga emas berpeluang melonjak hingga menyentuh angka US$ 5.400 per troy ounce pada akhir tahun 2026.