Harga emas perhiasan terpantau kompak stabil di sejumlah penyedia pada Jumat pagi, 22 Mei 2026. Data dari Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi (HRTA), dan Laku Emas menunjukkan pergerakan harga yang tidak mengalami perubahan dari posisi sebelumnya.
Seperti dikutip dari Investor Daily, pergerakan instrumen investasi ini terus berjalan dinamis. Para calon pembeli maupun investor emas perhiasan disarankan untuk terus memantau pergerakan harga terkini agar dapat mengambil keputusan terbaik, baik saat ingin membeli maupun menjual kembali koleksi mereka.
Di ranah global, harga emas secara umum telah mengalami penurunan hingga 12% sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Penguatan dolar AS yang terjadi secara terus-menerus serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi beban utama bagi pergerakan logam mulia ini.
Meski sedang berada dalam tren menurun, sejumlah ahli menilai bahwa prospek harga emas dalam jangka menengah tetap konstruktif. Ahli Strategi Komoditas di ING, Ewa Manthey, memproyeksikan harga emas masih memiliki peluang besar untuk kembali ke level US$ 5.000 per troy ounce pada akhir tahun 2026.
"Prospek harga emas dalam jangka menengah tetap konstruktif," kata Ewa Manthey dalam laporannya yang dikutip dari Goldinvest.
Ewa Manthey menambahkan bahwa proyeksi kenaikan tersebut didukung oleh kuatnya permintaan dari bank-bank sentral di berbagai negara serta peningkatan aliran instrumen ETF.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada komoditas Crude Palm Oil (CPO). Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) anjlok parah pada Kamis, 21 Mei 2026, yang memperpanjang tren pelemahan selama dua hari berturut-turut.
Tekanan berat pada CPO dipicu oleh lesunya permintaan ekspor serta penurunan harga minyak mentah dunia. Berdasarkan data surveyor kargo dari Tradingview, pengiriman produk minyak sawit Malaysia sepanjang periode 1ÔÇô20 Mei 2026 merosot antara 13,9% hingga 20,5% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan sebelumnya.
Rekomendasi Saham dan Performa Emiten
Sentimen pasar juga datang dari sektor pasar modal domestik. Saham emiten milik Anthoni Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), mendapatkan sorotan dari Phintraco Sekuritas untuk sesi perdagangan Jumat, 22 Mei 2026.
Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi strategi trading buy untuk saham INDF dengan titik masuk ideal di kisaran 6.700. Target harga yang ditetapkan berada di angka 7.000, dengan rekomendasi sell on strength pada level 7.125.
Dari sisi penilaian saham, rasio price to book value (PBV) INDF saat ini tercatat hanya sebesar 0,77 kali atau berada di bawah nilai 1. Selain itu, emiten ini memiliki price earning ratio (PER) sebesar 5,43 kali untuk kinerja trailing twelve months (TTM).
Di sisi lain, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperlihatkan pergerakan penting di tengah penurunan harga yang cukup tajam. Investor asing terpantau melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 203,87 miliar pada saham BUMI dalam perdagangan Kamis, 21 Mei 2026.
Aksi borong oleh investor asing ini terjadi di tengah koreksi dalam sepekan terakhir, di mana saham emiten pertambangan tersebut jatuh hingga 23,36%. Aktivitas akumulasi ini bertepatan dengan pengumuman resmi perseroan mengenai penerbitan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap V Tahun 2026 dengan jumlah pokok obligasi senilai Rp 1,83 triliun.