Nilai tukar emas dunia mengalami penguatan pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta kekhawatiran terhadap laju inflasi global. Komoditas ini tercatat naik 0,34 persen ke posisi US$ 4.751,09 per ons troi saat pasar juga mengantisipasi rilis data ekonomi penting Amerika Serikat.
Kenaikan harga logam mulia ini berjalan beriringan dengan lonjakan harga minyak mentah dunia, sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada pada level US$ 98,07 per barel, sementara jenis Brent bertahan di kisaran US$ 104,21 per barel akibat ketidakpastian jalur distribusi di Selat Hormuz.
Eskalasi di Timur Tengah dipicu oleh sikap politik Washington terhadap Teheran yang kian memanas. Berdasarkan laporan Kitco News, kondisi diplomasi kedua negara saat ini dinilai sedang berada di titik yang sangat kritis.
"on life support" cetus Donald Trump, Presiden AS.
Penolakan Trump terhadap proposal gencatan senjata terbaru dari Iran tersebut memperparah kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi global. Situasi ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,4 persen dan memperkuat posisi dolar AS di pasar mata uang.
Kini, atensi para pelaku pasar beralih pada pengumuman data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk periode April yang dijadwalkan rilis pada hari Selasa waktu setempat. Investor juga tengah menunggu laporan Producer Price Index (PPI) pada Rabu (13/5/2026) serta data harga ekspor-impor pada Kamis (14/5/2026) mendatang.
Secara teknikal, harga emas diproyeksikan akan menguji titik resistance pada rentang US$ 4.769 hingga US$ 4.880 per ons troi. Di sisi lain, level pendukung atau support terdekat berada pada kisaran harga US$ 4.660 sampai US$ 4.680 per ons troi jika terjadi koreksi harga.