Harga emas spot merosot sebesar 0,79 persen menjadi US$ 4.506,30 per ons troi pada akhir perdagangan Jumat (22/5/2026) akibat kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga agresif bank sentral Amerika Serikat. Pelemahan ini dipicu oleh lonjakan harga energi serta ketegangan konflik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas inflasi global.
Penurunan nilai komoditas ini terjadi seiring dengan penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negara tersebut, sebagaimana dilansir dari Investor Daily melalui data Kitco. Kondisi ini menekan daya tarik emas sebagai aset aman, sementara harga perak spot juga ikut melemah 1,47 persen ke level US$ 75,43 per ons.
Kekhawatiran pasar diperkuat oleh rilis data ekonomi domestik Amerika Serikat yang menunjukkan penurunan indeks sentimen konsumen Universitas Michigan dari 49,8 pada April menjadi 44,8 pada Mei. Sebaliknya, ekspektasi inflasi masyarakat untuk jangka pendek satu tahun justru merangkak naik ke angka 4,8 persen dan proyeksi jangka panjang berada di level 3,9 persen.
Gubernur bank sentral Amerika Serikat mengambil sikap tegas terkait ketidakpastian situasi ekonomi global saat ini yang berdampak pada pergeseran fokus penanganan risiko keuangan negara.
"Ekspektasi inflasi mulai tidak terkendali," tegas Christopher Waller, Gubernur The Fed yang menyatakan kesiapan untuk mendukung kenaikan suku bunga acuan jika situasi tersebut terjadi.
Pernyataan dari otoritas moneter tersebut memicu kecemasan pelaku pasar bahwa bank sentral akan mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Di sisi lain, fluktuasi harga komoditas energi masih dibayangi oleh proses negosiasi pertikaian geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terkait pengelolaan jalur maritim internasional di Selat Hormuz.
Hambatan kesepakatan mengenai program uranium dan pengawasan jalur logistik vital tersebut membuat harga minyak mentah West Texas Intermediate berada di kisaran US$ 98,25 per barel dan Brent menyentuh US$ 105,19 per barel. Tekanan jual di pasar berjangka turut membuat kontrak emas Comex ditutup melemah 0,76 persen secara mingguan menjadi US$ 4.521 per ons, yang menandai tren penurunan selama dua pekan berturut-turut.
Secara teknikal, pergerakan instrumen investasi ini dinilai sedang menghadapi area batas atas yang kuat pada rentang harga US$ 4.530 hingga US$ 4.550 per ons troi. Pasar memproyeksikan harga emas berpotensi terkoreksi lebih dalam menuju kisaran support US$ 4.350 hingga US$ 4.370 per ons troi apabila level menembus batas bawah US$ 4.491 per ons troi terlampaui.