Harga emas dunia mengalami penurunan lebih dari 1 persen pada perdagangan Selasa (27/5/2026) karena tertekan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed). Sentimen ini menguat setelah serangan militer terbaru Amerika Serikat ke Iran kembali memicu kekhawatiran peningkatan inflasi global.
Penurunan nilai komoditas ini terjadi di pasar global, sebagaimana dilansir dari Investor Daily yang mengutip laporan Reuters. Menurut data perdagangan, harga emas spot ditutup merosot sebesar 1,36 persen menjadi US$ 4.507,56 per ons troi, sedangkan emas berjangka AS untuk kontrak pengiriman Juni melemah 0,32 persen ke posisi US$ 4.541,6 per ons troi.
Pergerakan negatif ini terjadi di tengah proyeksi pelaku pasar obligasi terhadap kebijakan moneter ketat yang berpotensi berlanjut. Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff menjelaskan situasi pasar terkini mengenai arah kebijakan bank sentral tersebut.
"Pasar obligasi berpandangan bahwa langkah suku bunga The Fed berikutnya kemungkinan adalah kenaikan. Itu menjadi sentimen negatif bagi pasar emas hari ini," ujar Jim Wyckoff, Analis Pasar American Gold Exchange.
Tekanan terhadap logam mulia tersebut semakin intensif setelah pelantikan resmi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed pada Jumat (22/5/2026). Melalui momentum tersebut, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.
Wyckoff menambahkan informasi tambahan terkait pergerakan teknikal komoditas emas yang saat ini masih menghadapi tekanan jual di pasar berjangka.
"Pasar obligasi berpandangan bahwa langkah suku bunga The Fed berikutnya kemungkinan adalah kenaikan. Itu menjadi sentimen negatif bagi pasar emas hari ini," ujar Jim Wyckoff, Analis Pasar American Gold Exchange.
Meskipun emas berfungsi sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, aset ini cenderung tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, harga minyak mentah Brent justru melonjak lebih dari 4 persen akibat ketidakpastian damai AS-Iran dan gangguan arus pengiriman di Selat Hormuz.
Menyikapi perkembangan ekonomi tersebut, lembaga keuangan UBS memangkas target harga emas akhir tahun sebesar US$ 400 menjadi US$ 5.500 per ons troi. Penurunan target ini dipicu oleh risiko berlanjut dari kenaikan imbal hasil obligasi serta penguatan nilai tukar dolar AS.
Koreksi harga juga melanda komoditas logam mulia lainnya pada sesi perdagangan yang sama. Harga perak spot turun 1,41 persen menjadi US$ 76,98 per ons, platinum melemah 0,01 persen ke US$ 1.965,93, dan palladium terkoreksi 0,39 persen menjadi US$ 1.389,59 per ons.
Saat ini para pelaku pasar sedang menantikan rilis data indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Kamis (28/5/2026). Data tersebut akan menjadi acuan utama untuk mencari petunjuk arah inflasi serta kebijakan suku bunga bank sentral selanjutnya.