Nilai komoditas emas di pasar global mengalami penurunan akibat lonjakan kurs dolar Amerika Serikat serta peningkatan harga minyak mentah pada Jumat (22/5/2026). Peristiwa ini memicu proyeksi pasar mengenai potensi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari Internasional, harga emas spot merosot sebesar 0,4 persen menjadi US$ 4.522,89 per ons pada pukul 02.22 GMT. Penurunan ini akumulatif membentuk pelemahan mingguan sekitar 0,3 persen selama dua pekan beruntun.
Koreksi serupa juga melanda kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk masa pengiriman Juni yang terkontraksi 0,4 persen menuju level US$ 4.524,40 per ons. Penguatan mata uang dolar yang bertahan di zona tertinggi dalam kurun waktu enam minggu terakhir memicu kenaikan biaya pembelian bagi investor di luar zona greenback.
Analis Marex, Edward Meir, menilai pergerakan mata uang Paman Sam menjadi beban utama bagi laju harga komoditas logam mulia.
"What what driving gold lower was a stronger dollar, which in turn is being driven by higher interest rates staying with us for longer across the world," ujar Edward Meir, Analis Marex.
Di sektor geopolitik, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengonfirmasi adanya sinyal positif dalam proses diplomasi bersama pihak Iran. Namun, kendali atas Selat Hormuz dan cadangan uranium Iran masih memicu hambatan dalam negosiasi tersebut.
Ketidakpastian negosiasi damai ini mendorong kenaikan harga minyak global yang berdampak pada kekhawatiran inflasi jangka panjang. Kondisi suku bunga tinggi secara historis mengurangi daya tarik emas karena statusnya yang tidak menghasilkan imbal hasil.
Data dari CME Group melalui perangkat FedWatch menunjukkan probabilitas sebesar 60 persen bagi The Fed untuk mengerek suku bunga pada Desember mendatang. Sementara itu, Presiden Donald Trump dijadwalkan melantik Kevin Warsh menjadi Ketua The Fed di Gedung Putih.
Presiden The Fed Richmond, Thomas Barkin, menyatakan bahwa dinamika respons dari pelaku usaha serta konsumen terhadap guncangan ekonomi saat ini menjadi indikator utama kebijakan moneter. Hal tersebut akan menentukan langkah bank sentral dalam merespons lonjakan inflasi.
Pada perdagangan sektor komoditas logam lainnya, perak spot terkoreksi 0,7 persen ke angka US$ 76,18 per ons. Sebaliknya, platinum turun 1 persen ke harga US$ 1.945,97 per ons dan palladium menyusut 0,5 persen menjadi US$ 1.371,90 per ons.