Harga Emas Dunia Melemah Dipicu Kekhawatiran Inflasi Amerika Serikat

Harga Emas Dunia Melemah Dipicu Kekhawatiran Inflasi Amerika Serikat
Foto: Ilustrasi Harga Emas Dunia Melemah Dipicu Kekhawatiran Inflasi Amerika Serikat.

Harga emas dunia mengalami koreksi pada perdagangan awal pekan, Senin (4/5/2026), akibat meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap laju inflasi di Amerika Serikat. Penurunan nilai logam mulia ini juga dipengaruhi oleh ketidakpastian hasil negosiasi damai antara otoritas Washington dan Iran.

Nilai emas spot terpantau merosot 0,3 persen menjadi 4.599,45 dollar AS per ons sebagaimana dilansir dari Money. Pada saat yang sama, kontrak berjangka emas AS untuk periode pengiriman Juni mencatatkan pelemahan sebesar 0,7 persen ke level 4.611,40 dollar AS per ons.

Tren penurunan ini telah berlangsung selama dua pekan berturut-turut sejak eskalasi konflik pada akhir Februari 2026. Dinamika pasar saat ini sangat bergantung pada perkembangan situasi di Selat Hormuz yang melibatkan peran militer Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan terkait langkah kemanusiaan yang akan diambil militer di kawasan konflik tersebut untuk mengamankan jalur perdagangan internasional.

"Washington akan mulai mengawal kapal-kapal yang tidak terlibat konflik Iran untuk keluar dari kawasan tersebut sebagai langkah kemanusiaan," kata Donald Trump, Presiden AS.

Pihak Gedung Putih mengonfirmasi adanya komunikasi diplomasi yang sedang berjalan, meskipun masih terdapat celah besar dalam kesepakatan yang ditawarkan oleh pihak Teheran dalam pertemuan terakhir.

"diskusi positif," ungkap Donald Trump.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pihak Amerika Serikat telah mengirimkan jawaban atas proposal perdamaian 14 poin melalui perantara Pakistan. Tingginya harga energi dunia, dengan minyak mentah yang bertahan di atas 100 dollar AS per barel, kian memperumit kondisi ekonomi.

Kebijakan moneter global turut tertekan oleh risiko inflasi akibat lonjakan harga bahan bakar ini. Federal Reserve mengisyaratkan akan mempertahankan suku bunga tinggi, yang secara langsung mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.

Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari menyoroti dampak jangka panjang dari ketegangan geopolitik terhadap stabilitas ekonomi domestik dan global yang membatasi fleksibilitas bank sentral.

"konflik Iran yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi," kata Neel Kashkari, Presiden The Fed Minneapolis.

Di sisi lain, pejabat bank sentral menekankan pentingnya akurasi data sebelum mengambil langkah pelonggaran moneter. Inflasi AS pada Maret lalu mencapai 0,7 persen, menjadi angka tertinggi sejak pertengahan tahun 2022.

"sinyal negatif bagi prospek pelonggaran kebijakan moneter," kata Austan Goolsbee, Presiden The Fed Chicago.

Meskipun harga sedang melemah, permintaan emas dalam jangka panjang diprediksi tetap kuat. Data World Gold Council menunjukkan bank sentral global secara masif menambah cadangan emas mereka pada kuartal I-2026, yang diikuti oleh aksi beli dari Tether Holdings SA.

Pergerakan harga logam lainnya menunjukkan hasil beragam, di mana perak naik menjadi 75,38 dollar AS dan platinum menguat ke level 1.991,85 dollar AS. Sementara itu, paladium mencatatkan penurunan harga menjadi 1.519,66 dollar AS per ons.

Artikel terkait

Rekomendasi