Harga Emas Dunia Melemah Akibat Lonjakan Minyak dan Risiko Inflasi

Harga Emas Dunia Melemah Akibat Lonjakan Minyak dan Risiko Inflasi
Foto: Ilustrasi Harga Emas Dunia Melemah Akibat Lonjakan Minyak dan Risiko Inflasi.

Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (12/5/2026) setelah tertekan oleh lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi global. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga acuan akan bertahan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Berdasarkan data yang dilansir dari Investor Daily, harga emas ditutup merosot 0,41% menjadi US$ 4.715,33 per ons troi. Pada saat yang sama, kontrak emas berjangka Amerika Serikat (AS) juga mencatatkan pelemahan sebesar 0,13% dan berakhir di posisi US$ 4.722,7 per ons troi.

Tekanan pada logam mulia muncul seiring memudarnya optimisme terhadap kesepakatan damai Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata berada dalam kondisi sulit. Situasi geopolitik tersebut menyebabkan harga minyak dunia melambung lebih dari 3% dan meningkatkan risiko stagflasi global.

Kepala Strategi Komoditas TD Securities Bart Melek memberikan penjelasan mengenai dampak kenaikan komoditas energi terhadap kebijakan moneter bank sentral.

"Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko bank sentral AS dan negara lain harus menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang berpotensi memicu stagflasi. Itu sebabnya emas tertekan," ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas TD Securities.

Data ekonomi terbaru turut memperberat posisi emas dengan laporan inflasi konsumen AS yang meningkat selama dua bulan berturut-turut hingga April 2026. Tingginya inflasi tahunan ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil di tengah tren suku bunga tinggi.

Meski mengalami koreksi, beberapa pihak masih melihat adanya potensi penguatan bagi logam mulia dalam jangka panjang. Strategi Logam Mulia UBS Joni Teves menekankan bahwa landasan utama penggerak harga masih berada pada posisi yang kokoh.

"Kami masih melihat harga emas berpotensi pulih dari level saat ini dan kembali mencetak rekor tertinggi baru tahun ini," ujar Joni Teves, Strategi Logam Mulia UBS.

Saat ini investor sedang mengalihkan perhatian pada rilis data Producer Price Index (PPI) AS yang dijadwalkan pada Rabu (13/5/2026). Selain itu, pasar memantau rencana pertemuan antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026.

Di pasar logam lainnya, harga perak spot terkoreksi 0,54% ke level US$ 86,58 per ons troi. Penurunan juga terjadi pada harga platinum sebesar 0,19% menjadi US$ 2.131,19 per ons, sementara palladium melemah 0,86% ke posisi US$ 1.495,77 per ons troi.

Artikel terkait

Rekomendasi