Harga Emas Dunia Melemah ke 4.557 Dollar AS per Ons 15 Mei 2026

Harga Emas Dunia Melemah ke 4.557 Dollar AS per Ons 15 Mei 2026
Foto: Ilustrasi Harga Emas Dunia Melemah ke 4.557 Dollar AS per Ons 15 Mei 2026.

Harga emas di pasar dunia mengalami penurunan dalam satu pekan terakhir. Komoditas ini tertekan oleh penguatan mata uang dollar Amerika Serikat (AS), peningkatan imbal hasil obligasi, serta kecemasan pasar terhadap inflasi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Satu pekan ini, harga emas di pasar spot mencatatkan penurunan sebesar 2,5 persen seperti dikutip dari Money. Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (15/5/2026) waktu setempat, harga logam mulia tersebut menyentuh angka 4.557,61 dollar AS per ons.

Nilai tersebut menjadi rekor terendah sejak tanggal 4 Mei 2026, sebelum akhirnya perdagangan ditutup dengan pelemahan sebesar 2 persen. Penurunan ini mencerminkan dinamika pasar global yang sedang bergejolak.

Kondisi serupa terjadi pada kontrak emas berjangka AS untuk masa pengiriman Juni yang melemah sebesar 2,7 persen. Instrumen investasi tersebut mengakhiri sesi perdagangan di posisi 4.561,90 dollar AS per ons.

Daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi berkurang di mata para pelaku pasar. Hal ini disebabkan oleh posisi dollar AS yang menguat dan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS yang berada di level tertinggi dalam hampir setahun terakhir.

"Terjadi aksi jual di pasar logam mulia karena beberapa faktor. Dollar menguat cukup signifikan, dan kita juga melihat kenaikan imbal hasil obligasi, tidak hanya di AS tetapi juga secara global," kata analis Marex, Edward Meir.

Meningkatnya nilai mata uang dollar AS membuat investasi emas menjadi lebih mahal bagi para pemilik modal yang menggunakan mata uang lain. Dampaknya, minat para investor terhadap logam kuning ini mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Kekhawatiran mengenai inflasi dunia juga dipicu oleh situasi geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda. Perang antara AS dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah hingga melampaui 40 persen sejak awal konflik pada akhir Februari 2026.

Tekanan inflasi yang meninggi biasanya direspons oleh bank sentral dengan menaikkan tingkat suku bunga acuan. Kebijakan moneter tersebut berpotensi semakin menekan posisi emas di pasar finansial karena statusnya sebagai aset tanpa imbal hasil.

Mengenai situasi politik global, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya semakin kehilangan kesabaran terhadap pihak Iran. Di saat yang sama, perhatian para pelaku pasar juga tertuju pada arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa pelaku pasar saat ini mulai memangkas perkiraan terhadap penurunan suku bunga The Fed pada tahun ini. Bahkan, di kalangan investor kini muncul prediksi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut.

Tren penurunan harga ini tidak hanya melanda komoditas emas, melainkan juga berimbas pada sektor logam mulia lainnya. Harga perak di pasar spot tercatat merosot tajam sebesar 7,7 persen menjadi 77,07 dollar AS per ons pada akhir pekan lalu.

"perak sedang berada dalam kondisi jenuh beli sehingga membutuhkan koreksi," sebut analis StoneX, Rhona OÔÇÖConnell.

Komoditas perak tersebut sempat mengalami kejatuhan nilai hingga 9 persen dalam kurun waktu satu hari perdagangan. Catatan tersebut menjadi kinerja harian paling buruk bagi pasar perak sejak tanggal 3 Maret 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi