Harga emas dunia bergerak di bawah tekanan sepanjang pekan ini. Kondisi tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar terkait kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed yang diprediksi mempertahankan sikap agresif dalam jangka waktu lebih lama.
Kekhawatiran ini muncul sebagai respons terhadap tingkat inflasi yang tetap tinggi serta adanya gejolak pada harga energi global. Pergerakan komoditas ini terus dibayangi oleh sentimen kebijakan moneter tersebut.
Dikutip dari Investor Daily, harga emas spot mengawali perdagangan pekan ini pada level US$ 4.539,09 per ons troi. Nilai tersebut sempat merangkak naik hingga mendekati level US$ 4.600 per ons troi.
Namun, tren kenaikan tersebut gagal bertahan setelah mata uang dolar AS mengalami penguatan. Selain itu, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat juga kembali merangkak naik.
Tekanan yang kuat sempat membuat harga emas menembus ke bawah level psikologis US$ 4.500 per ons troi. Logam mulia ini menyentuh titik terendah mingguan pada level US$ 4.453 per ons troi sebelum akhirnya ditutup pada kisaran US$ 4.508 per ons troi di akhir pekan.
Risalah rapat Federal Open Market Committee atau FOMC bulan April menunjukkan bahwa para pejabat The Fed masih mencemaskan risiko inflasi. Faktor pemicu utamanya adalah lonjakan harga energi serta penerapan tarif perdagangan.
Kondisi pasar semakin tertekan setelah Gubernur The Fed Christopher Waller memberikan pernyataan tegas. Ia menyatakan bahwa bank sentral siap mengambil langkah untuk mendukung kenaikan suku bunga jika ekspektasi inflasi tidak terkendali.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Situasi ini secara langsung menggerus daya tarik emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil atau non-yielding.
Di samping faktor moneter, investor juga terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah. Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz menjadi perhatian penting lainnya.
Ketidakpastian situasi geopolitik tersebut sempat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset aman atau safe haven. Meski demikian, sentimen ini gagal mempertahankan kenaikan harga emas karena fokus pasar tetap tertuju pada masalah inflasi dan kenaikan yield obligasi AS.
Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler memberikan pandangannya terkait pergerakan komoditas ini. Menurutnya, emas masih berada dalam posisi yang sulit untuk keluar dari tekanan moneter.
"Emas perlu menembus area US$ 4.600 per ons troi untuk kembali menunjukkan sinyal penguatan yang solid. Namun, risiko penurunan masih terbuka menuju area US$ 4.370 per ons troi," jelasnya.
Sementara itu, penurunan peluang pemangkasan suku bunga dipengaruhi oleh data ekonomi terbaru. Faktor utamanya adalah kenaikan inflasi di tingkat produsen dan konsumen di Amerika Serikat.
Presiden Asset Strategies International Rich Checkan memberikan analisis terkait munculnya kembali ekspektasi kenaikan suku bunga di tingkat bank sentral. Kondisi ini dinilai membawa dampak kurang menguntungkan bagi pergerakan komoditas.
"Ekspektasi kenaikan suku bunga kini kembali muncul dan itu biasanya menjadi sentimen negatif bagi harga emas," ujarnya.
Di sisi lain, pergerakan harga emas dinilai belum menunjukkan arah yang pasti. Situasi wait and see ini terjadi seiring dengan volume perdagangan yang terpantau relatif sepi di pasar komoditas.
Presiden Phoenix Futures and Options Kevin Grady menilai para investor saat ini memilih untuk menahan diri. Mereka sedang menunggu kejelasan terkait konflik Iran dan arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
Menurut Grady, ketidakpastian ini membuat risiko kenaikan maupun penurunan harga emas berada pada posisi yang sama besarnya di pasar.
Berdasarkan survei mingguan yang dilakukan oleh Kitco, terdapat perbedaan pandangan antara pelaku pasar Wall Street dan investor ritel Main Street mengenai prospek jangka pendek komoditas ini.
Hasil survei terhadap 13 analis Wall Street menunjukkan mayoritas responden bersikap pesimistis. Sebanyak 62% di antaranya memperkirakan harga emas masih akan mengalami penurunan pada pekan depan.
Sebaliknya, optimisme justru ditunjukkan oleh kelompok investor ritel Main Street. Sebanyak 56% responden dari kelompok ini meyakini bahwa harga emas masih memiliki potensi untuk bergerak naik dalam satu pekan ke depan.