Nilai jual emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan signifikan sebesar Rp30.000 menjadi Rp2.790.000 per gram pada Rabu, 6 Mei 2026. Lonjakan harga ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah serta pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap mata uang global.
Berdasarkan data dari situs resmi Logam Mulia yang dilansir dari Suara, harga beli kembali atau buyback juga terkerek naik sebesar Rp35.000 hingga menyentuh level Rp2.580.000 per gram. Perlu dicatat bahwa nominal tersebut belum mencakup pajak penghasilan sesuai regulasi PMK Nomor 34/OMK.19/2017.3.
Besaran pajak yang dikenakan adalah 0,45 persen bagi pemilik NPWP, sedangkan bagi mereka yang tidak menyertakan NPWP akan dikenakan potongan sebesar 0,9 persen. Berikut adalah rincian harga emas Antam setelah perhitungan pajak pada hari ini:
| Ukuran | Harga Setelah Pajak (Rp) |
|---|---|
| 0,5 gram | 1.448.613 |
| 1 gram | 2.796.975 |
| 2 gram | 5.533.800 |
| 3 gram | 8.275.638 |
| 5 gram | 13.759.313 |
| 10 gram | 27.463.488 |
| 25 gram | 68.532.905 |
| 50 gram | 136.986.613 |
| 100 gram | 273.895.030 |
| 250 gram | 684.471.913 |
| 500 gram | 1.368.733.300 |
| 1.000 gram | 2.737.426.500 |
Kenaikan harga ini berjalan selaras dengan penguatan emas dunia di zona positif yang mendekati level 4.575 dolar AS per troy ounce pada awal sesi Asia. Peningkatan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi perluasan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat memberikan pernyataan khusus mengenai kondisi keamanan terkini di kawasan Teluk terkait situasi Selat Hormuz.
"gencatan senjata dengan Iran belum sepenuhnya berakhir, meskipun kedua pihak sempat terlibat baku tembak di kawasan Teluk terkait Selat Hormuz." kata Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS.
Kondisi di Selat Hormuz tetap tegang setelah adanya serangan rudal dan drone yang menyasar Uni Emirat Arab (UEA). Pemerintah UEA melaporkan telah melumpuhkan mayoritas dari sekitar 20 proyektil yang diluncurkan dari wilayah Iran pada hari sebelumnya.
Selain faktor keamanan, pelaku pasar saat ini tengah mengalihkan fokus pada rilis data ekonomi krusial dari Amerika Serikat. Laporan perubahan ketenagakerjaan ADP yang keluar pada Rabu serta data nonfarm payrolls pada Jumat mendatang diprediksi akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS ke depan.