Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah memicu penurunan tajam harga emas hingga mencapai 12 persen. Lonjakan performa dolar AS serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi beban berat yang menekan pergerakan logam mulia tersebut.
Meskipun sedang menghadapi tren penurunan, para analis menilai bahwa prospek nilai jual emas dalam jangka menengah masih berada dalam posisi konstruktif. Evaluasi pasar menunjukkan potensi pemulihan yang kuat setelah ketegangan geopolitik mereda.
Ahli Strategi Komoditas di ING, Ewa Manthey, memprediksi harga komoditas ini memiliki peluang besar untuk kembali menyentuh angka US$ 5.000 per troy ounce pada akhir tahun 2026. Seperti dikutip dari Investor Daily, pertumbuhan tersebut bakal ditopang oleh masifnya permintaan bank sentral global dan peningkatan arus modal masuk ke ETF.
Menurut analisis Manthey, koreksi harga yang terjadi belakangan ini lebih disebabkan oleh dinamika ekonomi makro yang bersifat temporer. Faktor pemicunya meliputi lonjakan harga minyak mentah dunia, penguatan nilai tukar dolar AS, serta tingginya imbal hasil riil.
Setelah gejolak politik di Timur Tengah mereda, dukungan pasar terhadap logam mulia diprediksi akan kembali menebal. Untuk beberapa bulan ke depan, pihak ING memproyeksikan target kenaikan harga sekitar 6 persen sebagai level yang cukup realistis bagi investor.
Aksi Borong Bank Sentral Dunia
Optimisme serupa juga disuarakan oleh lembaga keuangan global Goldman Sachs. Tim ahli komoditas yang berada di bawah arahan Daan Struyven mengestimasi nilai emas mampu melesat hingga ke level US$ 5.400 per troy ounce pada penghujung tahun 2026.
Daan Struyven menjelaskan terdapat dua faktor utama yang mendasari pandangan positif tersebut. Faktor pertama adalah konsistensi bank sentral di berbagai negara yang terus menjalankan strategi pembelian dalam skala besar.
Sebagai contoh, Bank Rakyat Tiongkok tercatat melakukan penambahan volume cadangan resmi mereka sebanyak 8 ton pada bulan April. Langkah tersebut menjadi rekor akuisisi bulanan tertinggi dalam kurun waktu lima belas bulan terakhir.
Berdasarkan hasil survei yang dirilis oleh Goldman Sachs, tren akumulasi aset ini masih akan terus berlanjut ke depan. Sekitar 70 persen dari bank sentral yang masuk dalam objek pengamatan menyatakan komitmen untuk memperbesar cadangan emas mereka dalam jangka waktu 12 bulan mendatang.